Tugu Kartini

jalan RA. Kartini, Bandarlampung.

tugu ADIPURA, Bandarlampung

tugu ADIPURA dengan gajah lampung sebagai icon kota Bandarlampung.

SDN 1 Waykandis

sekolah pertamaku.

pulau Condong, Lampung Selatan

tempat wisata favoritku

Kebun kelapa

Kebun kelapa di pesisir selatan Lampung Barat.

Tampilkan postingan dengan label Semacam Tulisan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Semacam Tulisan. Tampilkan semua postingan

Senin, 26 Mei 2014

Drama Monolong "KIta Semua adalah Koruptor"

beberapa pekan lalu, aku mengikuti pemilihan mahasiswa terbaik di kampusku. Dalam acar itu, peserta diwajibkan menampilkan pertunjukan bkat terbaiknya. Akhirnya aku memilih untuk menampilkan drama monolog. Ide cerita kudapatkan dari keluh kesahku pada kemelut di negeri ini. "Tikus Negara".

judul: "Kita Semua adalah Koruptor"
karya: Ica

Mereka menyebutku koruptor. Pencuri uang rakyat yang ulung. Mereka bilang, aku pemimpin lalim. Mereka memaksaku mendekam di rutan ini. Sebut lah aku koruptor. Hujat aku sepuasnya. Ayo hujat! Hingga kalian menyadari, kalian sedang menghujat diri kalian sendiri.


Kalian bilang, pemimpin kalian korupsi. Kalian bilang pemimpin kalian lalim. Apa kalian tidak mengenal kalimat: “pemimpin adalah cerminan dari rakyatnya”? ya, pemimpin kalian adalah cerminan dari perilaku kalian. Jadi kalian juga koruptor? Ya. Hahaha. Sudah merasakan bahwa kalian telah menghujat diri sendiri? 

Oh, jangan. Jangan katakan kalian tidak pernah korupsi. Kalian pernah, bahkan sering.
Korupsi yang kami lakukan adalah mencuri uang yang harusnya menjadi hak kalian, rakyat-rakyat.  Korupsi yang kami lakukan adalah tidak melaksanakan kewajiban kami sebagai pemimpin kalian. Korupsi yang kalian lakukan adalah mencuri harta sesama kalian. Jawab pertanyaanku, apakah pencuri, pencopet, dan sejenisnya sudah tidak ada lagi yang berkeliaran di sekitar kalian? Jawab pertanyaanku, apakah kalian tidak pernah mangkir dari kewajiban kalian beribadah sebagai hamba Tuhan? Jawab pertanyaanku, apakah pegawai-pegawai negeri tidak ada lagi yang membolos bekerja? Ayo, jawab!

Negara kita ini sungguh lucu. Keras berteriak saat muncul terduga korupsi di media, tetapi kelihatan konyol tak berdaya saat dihadapkan kekayaan dan tahta! Aku sangat yakin, bila kalian juga memiliki kesempatan yang sama seperti yang kupunya dulu, memiliki kedudukan di pemerintahan, kesempatan menyeleweng yang terbuka lebar, kalian akan berpesta korupsi sama denganku. Kita semua adalah koruptor!


Jangan kalian menangisi penderitaan kalian seperti itu. Baikkanlah tabiat kalian, maka pemimpin kalian nanti akan bertabiat baik. Kalian bisa bebas menghinaku tanpa perlu merasa menghina diri sendiri lagi. Biarkan aku sendiri di sini. Menebus segala apa yang telah kuperbuat dulu dengan menyandang gelar sampah masyarakat pada diriku.

Maafkan Aku, Man...

Hhh… masa lalu… tidak seharusnya aku mengingatnya. Namun kejadian di masa kini memaksaku mengingatnya.
Saat itu aku masih duduk di kelas kelas 5 SD. Ada anak pindahan di kelasku, namanya Riman. Mungkin kalian akan menganggap ini berlebihan mengingat aku baru menginjak usia 10 tahun tapi baru pertama bertemu entah mengapa aku merasakan butir-butir debar aneh pada diriku. Aku seperti sangat bahagia memandanginya. Ya… sepertinya aku menyukainya.
Lambat laun, aku makin jatuh karena, ya… bisa disebut sebagai pesona darinya. Dia termasuk siswa yang cerdas, humoris, namun terkadang menyebalkan. Sangat normal dan biasa saja untuk ukuran anak laki-laki di usia awal belasan tahun. Tampan? Entah lah. Apakah anak laki-laki dengan wajah khas Sumatera Selatan, hidung mancung, potongan rambut seperti mangkuk tengkurap kecoklatan bisa dibilang tampan? Aku rasa kalian akan menyebut ia biasa saja. Sayangnya, aku tidak memiliki fotonya semasa SD dulu.
Riman adalah anak dari keluarga yang memiliki kelas ekonomi bawahan. Berdasarkan info yang kudapat dari guruku, sepulang sekolah ia bekerja sebagai pemulung. Apa yang kulihat dari anak seperti itu? Aku rasa, aku bisa membenarkan perkataan temanku bahwa aku memiliki selera yang buruk soal laki-laki. Tetapi selalu ada sesuatu yang lain di mataku, yang tidak bisa mereka lihat, mengenai laki-laki yang tersemat di ruang hatiku.
Entah hanya perasaanku saja atau apa, tetapi aku merasa Riman tampak suka sekali mencari-cari perhatianku. Jika aku duduk sendirian di kelas, ia menghampiriku dan mulai bertingkah konyol. Ada saja tingkahnya yang membuatku tertawa.
Aku menceritakan pada seorangsahabatku tentang perasaanku ini. Memang manusia tak pernah luput dari khilaf, berita bahwa aku menyukai Riman pun menyebar luas. Dari bocoran cerita itu, teman-temanku merayuku untuk tidak menyukai Riman dan mengalihkan perasaanku pada Arif, seorang temanku yang ternyata menyukaiku. ”Ngapain kamu suka sama Riman. Dia kan orangnya ngeselin. Jadian aja dengan Arif tuh, dia suka sama kamu,” begitu kata mereka. Dan jadilah aku mengikuti jalan jahiliyah. Aku berpacaran dengan Arif hingga kelas 6 akhir.
Saat kelas 6, Arif memberiku hadiah di hari ulang tahunku. Teman-teman ramai menyorakiku. Sahabatku melihat Riman memandangku dengan pandangan penuh sinis. Beruntung bukan aku yang melihatnya. Saat kelas 6 menjelang ujian akhir, Riman memberiku surat yang ia titipkan pada sahabatku. Sampai detik ini, surat itu belum sempat berada di tanganku. Kata sahabatku itu, surat itu mengatakan bahwa Riman menyukaiku.
Dan masa-masaku di bangku putih biru penuh dengan rasa bersalah. Aku hampir tak pernah sempat bertemu Arif lagi, dan Riman pun aku tidak tahu kemana rimbanya. Masa SMP-ku juga penuh dengan rasa tertarik dengan lawan jenis, tapi jauh di dalam hatiku, Riman masih ada dalam harapanku.
Aku belajar dari kesalahan. Sejak saat itu aku benar-benar menganggap bahwa pacaran adalah hal yang sia-sia. Walaupun aku mudah sekali jatuh cinta, tapi keinginan untuk menjalin hubungan spesial kukubur dalam-dalam. Ketika aku mendapat fatwa bahwa pacaran itu dilarang agama, aku sudah benar-benar siap menjauhi perkara itu.
Oh iya, aku memiliki facebook pertama kali saat tahun 2009. Sejak memiliki facebook, aku terus-terusan mencari teman-teman SD dulu di sana. Ada yang ketemu, ada pula yang tidak. Riman termasuk dalam kelompok teman-temanku yang tidak kutemui facebooknya. Kemudian pada tahun 2010 lalu, aku membuat grup khusus untuk semua teman-teman SD yang seangkatan denganku.
Saat SMA, aku sudah putus harapan. Hanya jika kebetulan saja aku mengingat-ingat soal Riman. Aku pikir, kalaupun kami dipertemukan kembali, aku bingung harus bilang apa. Apa minta maaf saja cukup? Dia sudah mengalami sakit hati luar biasa karena ulahku. Bagaimana kalau dia memintaku untuk jadian dengannya? Bukankah aku sudah berkomitmen untuk tidak berpacaran? Akhirnya aku sadar, perpisahan dengan Riman adalah hal terbaik yang harus terjadi. Aku berdo’a pada Tuhan, semoga ia mau memaafkanku.
Kelas 12 SMA, aku menemukan facebook teman SD-ku dulu yang juga sahabatnya Riman, aku terbiasa memanggilnya Udin. Kami saling mengobrol, dan di ujung obrolan, aku bertanya soal Riman. Sayangnya Udin gak tau secara detail, yang dia tau hanya Riman merantau ke Palembang kerja di sebuah perusahaan gas.
Lulus SMA, aku hampir benar-benar lupa soal Riman. Sampai kira-kira sebulan yang lalu, facebook-ku di-add orang dengan nama akun “RiymAn N**** L************”. Biasanya aku selalu menolak add dari orang yang tidak kukenal. Tetapi aku mengonfirmasi akun ini. Walau aku tidak yakin, tetapi aku seperti mengenal pemilik akun ini. Jangan-jangan…
Akun itu juga mengirimkan tulisan ke grup teman-teman SD-ku.


Aku mengomentari tulisan tersebut. (Aku yang memiliki nama depan dengan huruf “M”)
Entah aku harus senang atau biasa saja. Masa lalu itu, yang sudah susah payah aku buang, kini kembali datang ke dimensi tempatku berpijak.
Mungkin kalian akan berpikir bahwa kisahku akan berakhir Riman dan aku kembali bersatu. Aku menanggalkan komitmenku. Aku membayar apa yang sudah kurusak dalam diri Riman.

Aku tidak bisa melakukan itu. Komitmen yang kupegang benar-benar tidak bisa diganggu oleh apapun. Toh perasaanku pada Riman sudah hilang entah kemana dan tiada tersisa. Ada banyak hal yang harus kuraih selain hal ini.
Dan ada sebab lain yang membuatku enggan lagi mengekspresikan rasaku padanya.


Semua itu karena dia…
Dia sudah… J

Tuhan punya rencana lain yang lebih indah. Tadinya aku berharap Riman mau memaafkanku. Tetapi  baik ia mau memaafkanku maupun tidak, sudah ada bidadari cantik di sampingnya, yang bisa menyembuhkan luka dalam yang pernah kubuat.

“Maafkan aku, man… “

Sabtu, 21 September 2013

Jangan Asal Jatuh Cinta (part 1)

Jangan kira perasaanmu hanya akan menuai bahagia. Jangan kira perasaan indah itu tidak akan mencoreng kontra yang dapat melukai orang lain. Saat kau sudah terbuai jauh, kau akan menyadari ada seseorang yang menangis di balik kebahagiaanmu. Rasa bersalah akan menghujanimu, mengutuk dirimu. Hingga kau menyadari kesalahanmu, kau telah asal jatuh cinta.
***

Sebut saja RY. Dia teman seangkatanku di SMA yang memiliki suatu hubungan yang sedikit spesial denganku. Tidak, kami tidak berpacaran. Bagiku berpacaran adalah kegiatan yang sia-sia dan menghabiskan materi dan waktu. Trauma di masa lalu juga yang membuatku berpikiran begitu. Kami tahu kalau kami saling suka, namun kami tidak menjalin ikatan apapun, hanya teman dengan sedikit percikan rasa suka. Aneh? Kami pun menyadari keanehan itu.
***
Semua bermula saat aku duduk di bangku kelas dua SMA, atau yang biasa disebut kelas XI…
Menurutku, RY adalah seorang siswa yang cerdas. Aku suka jika mendengar ia mengeluarkan argumen. Praktis, cerdas, dan kritis. Awalnya aku tidak punya ketertarikan apapun padanya. Berteman dekat pun tidak. Tapi karena teman-teman dekatku adalah teman dekatnya juga, aku dan dia pun jadi teman dekat.
Sudah sering aku mendengar desas-desus bahwa RY menaruh hati padaku, awalnya aku tidak percaya tapi cerita dari teman-temanku tentang respon RY jika berbicara tentangku membuat aku percaya bahwa ia memang menyukaiku. Pada awalnya aku masih merasa normal-normal saja, aku tidak merasakan debaran asmara seujung kuku pun padanya. Tapi lama-kelamaan aku mulai terombang-ambing oleh satu kata ajaib, ”cinta”.
KI, salah satu teman dekatku pernah bercerita pada kami, “semalem gue mimpi. Kita udah ada di sepuluh tahun ke depan. Gue udah jadi apoteker di Jawa. Terus gue ketemu RY, yang udah jadi dosen Bahasa Inggris, di Jakarta. Terus kami pulang bareng ke Lampung. Sampe di Lampung, kami solat dulu di masjid di pinggir jalan. Eh, ketemu si White habis ngajar ngaji di masjid itu. Terus si White ngajak kami mampir ke rumahnya. Kami ngobrol sampe sore. Dan di kesempatan itu lah si RY NGELAMAR si White!” KI bercerita dengan wajah sumringah. Aku terkejut dengan ceritanya. Kontan teman-teman yang ikut mendengarkan pun langsung meledekku, “ciiyyee… White mau dilamar RY…”  begitulah kata mereka.
Sejak mendengar cerita mimpi dari KI, tanpa kusadari bahwa akujadi semakin sering memikirkan RY. Dari seringnya aku memikirkan dia itu lah aku jadi semakin penasaran dengannya. Dari rasa penasaranku padanya itu lah tumbuh ketertarikan. Dan dari ketertarikan itu lah aku “terperangkap” olehnya.
Jika ditanya apa alasanku suka padanya, aku juga bingung memikiran apa jawabannya. Entah lah, apakah yang aku rasakan ini disebut cinta? Bukan rasa suka biasa yang sering kualami sejak lama yang hanya bertahan dua tahun paling lama?
***
“RY mulai deket sama anak kelas X tuh,” ujar temanku suatu saat, “memangnya siapa?” tanyaku penasaran, “itu loh, RI anak kelas X 8,” ujarnya lagi. “Lo cemburu? Bunuh aja si RI itu, White. Hahaha…  ” katanya meledekku. Aku rasakan pipiku memerah.

Hari terus berganti. Aku mulai merasa bahwa kedekatan RY dengan RI adalah fakta. Melalui facebook, hampir setiap hari aku melihat mereka begitu akrab. Aku merasakan rasa sesak yang menghujani dadaku. Inikah cemburu?
(to be continued...)

Kamis, 09 Agustus 2012

Hai Kamu... :)


Hai kamu… mengapa kamu bersedih? Oh, kamu belum bisa menerima keputusanku saat itu ya…? Aku tahu perasaanmu dipenuhi rasa ketidakpastian setelah aku bilang ‘tidak’ atas ungkapan perasaanmu waktu itu. Maafkan aku. Aku tahu kamu sangat menyayangiku dan ingin memilikiku, tapi aku tidak bisa.

Aku jadi ingin tahu apa yang bisa membuatmu bahagia lagi. Hm… bagaimana kalau aku membalas rasa sayangmu padaku? Kamu mau kan?

Dengarkan aku… aku telah memberikan rasa sayangku padamu walaupun kamu tidak menyadarinya. Aku telah membalas rasa sayang itu walaupun kamu tidak bisa memilikiku.

Aku tidak ingin kamu memilikiku karena aku tidak ingin menjadi beban bagimu untuk saat ini. Karena aku tahu kamu belum siap. Aku juga takut kamu berdosa karena menyentuhku.
Aku tidak ingin kamu memujaku, mengagumiku karena aku takut kamu berdosa. Aku takut kamu lupa pada Dia karena aku.

Aku ingat, waktu itu kamu pernah terpilih untuk mewakili sekolahmu mengikuti olimpiade. Dari pengamatanku, kamu juga termasuk pemuda yang cerdas secara akademik. Dengan hadirnya aku, aku khawatir potensi akademikmu menurun karena waktu, materi, dan tenagamu hanya kamu luangkan untukku. Aku tidak ingin merepotkanmu.

Aku tahu bukan wujud sayang seperti ini yang kamu inginkan. Aku tahu kamu tidak sependapat denganku. Pernah kah kamu tidak sependapat dengan orang tuamu? Tapi kamu tahu kan kalau mereka menyayangimu?
Begitu pula aku, wujud rasa sayangku memang tidak seperti yang kamu inginkan, aku tidaksependapat denganmu. Tetapi aku harap kamu mengerti, bagiku ini yang terbaik untukmu.

Waktu akan menunjukkan semuanya. Layaknya kasih sayang orang tua, ialah kasih sayang yang begitu haqiqi, begitu murni, dan begitu terbaik untukmu. Aku hanya memberi kasih sayang yang terbaik untukmu.

Menurutmu apa manfaatnya bila kita bersatu seperti yang kebanyakan orang lakukan sekarang? Ada atau tidak? Yang kamu harapkan itu hanya kasih sayang semu yang terkontaminasi nafsu dunia, tetapi aku tidak memberikan kasih sayang yang semu padamu, aku memberikan kasih sayang yang murni.

Manusia tiada yang sempurna. Hanya ini yang bisa kuberikan. Aku mohon berbahagia lah… aku telah membalas kasih sayang itu kan?

Senin, 18 Juni 2012

Resensi Novel "The 13 Treasures"



Judul Buku          : “Tiga Belas Pusaka Peri”
Judul Asli             : The 13 Treasures
Penulis                 : Michelle Harrison
Penerjemah       : Endes Runi
Penerbit              : Dastan Books
Jumlah Halaman  : 350 halaman

Cerita peri yang sudah pada umumnya kita baca, pasti menceritakan tentang peri yang baik hati, penolong manusia, bersahabat, dan berpenampilan anggun. Tapi berbeda dengan novel ini, “The 13 Treasures.”
Novel ini menceritakan tentang peri-peri yang tidak suka diganggu atau diketahui keberadaannya oleh manusia. Jika informasi tentang mereka diketahui oleh manusia, mereka mau melakukanapapun demi tertutupnya atau terhapusnya informasimengenai mereka. Tidak hanya itu, mereka juga tidak ungkan untuk mencuri anak manusia. Adalah karya Michelle Harrison, penulis novel fantasi yang keren ini.
Sinopsis “The 13 Treasures”
Tanya, gadis berusia dua belas tahun yang memiliki penglihatan kedua  yaitu kemampuan untuk melihat peri, monster hutan, dan kurcaci. Kemampuannya itu malah membuat peri terganggu karena Tanya sering menuliskan tentang mereka di buku hariannya. Akibatnya Tanya sering mendapat hukuman dari para peri. Tanya menganggap kemampuannya ini seperti kutukan baginya.
Masalah sering menimpanya, bahkan ia sering dianggap aneh. Ibunya yang tidak tahan dengan semua masalah yang menimpanya, akhirnya mengirimnya ke rumah neneknya sebagai hukuman.
Neneknya tinggal di sebuah manor  kuno di desa terpencil. Manor itu memiliki banyak lorong bawah tanah yang misterius. Di sana,Tanya memiliki seorang teman bernama Fabian. Fabian adalah putra dari pria aneh yang menjadi pengurus manor itu. Fabian memiliki seorang kakek yang sudah pensiun sebagai pengurus manor karena mengalami gangguan jiwa.
Suatu hari, Tanya menemukan sebuah potongan koran yang memberitakan bahwa ada seorang gadis bernama Morwena Bloom, yang hilang lima puluh tahun yang lalu di Hangman’s Wood, hutan misterius yang terdapat beberapa lubang-lubang yang dalam. Ketika Tanya menanyakan mengenai gadis itu, neneknya hanya menjawab bahwa gadis itu adalah temannya. Tanya semakin penasaran karena sikap neneknya yang seperti menyembunyikan sesuatu.
Suatu hari, Tanya dan Fabian terpaksa masuk ke dalam hutan itu untuk mencari anjingnya yang kabur ke dalam hutan. Di hutan itu Tanya melihat banyak para peri hidup di sana, tentu saja Fabian tidak melihat apa pun. Saat mencari anjingnya, mereka tersesat, hingga mereka bertemu dengan seorang gadis bergaun hijau. Gadis itu menawarkan pertolongan untuk mencari anjing mereka. Saat mereka sedang berjalan membuntuti gadis itu, Tanya tersandung dan menabrak ayah Fabian yang sedang berburu di dalam hutan. Tetapi tanpa sepengetahuan Tanya dan Fabian, gadis itu menghilang.
Di terowongn misterius dalam manor kuno itu, ia bertemu dengan Red. Penyusup rumah dan pencuri bayi yang ternyata bermaksud baik dalam aksinya. Dari penjelasan Red, Tanya memiliki banyak pengetahuan tentang peri.
Fabian dan Tanya akhirnya mengetahui bahwa gadis yang mereka temui di hutan itu adalah Morwena Bloom. Mereka ingin menolong Morwena keluar dari hutan itu dan membuktikan bahwa kakek Fabian tidak bersalah. Tetapi usaha itu malah mencelakakan Tanya. Morwena yang menghilang karena ia memutuskan untuk tinggal di dalam dunia peri lima puluh tahun lalu, rupanya telah merencanakan upacara pertukaran dirinya dengan Tanya.
Upacara itu akan berakibat Tanya tinggal dalam dunia peri sementara Morwena akan kembali ke dunia manusia dengan tetap berusia empat belas tahun. Tetapi dengan usaha yang berbahaya dan berpacu dengan waktu, Fabian berhasil mematahkan kunci awet muda Morwena, sementara posisi Tanya digantikan oleh Red. Akhirnya Tanya dan Morwena bisa kembali ke dunia manusia. Namun karena kunci awet muda Morwena telah musnah, Morwena berubah menjadi tua dan mengerikan hingga penyakit gagal jantung menewaskannya.
Tanya kembali ke manor bersama Fabian dan ayahnya. Ia menceritakan semua petualangannya pada neneknya, Fabian, dan ayah Fabian.
Novel ini memiliki banyak latar namun bisa diceritakan denganbaik oleh penulis dengan plot yang cepat sehingga pembaca seolah tidak ingin berhenti membacanya. Satu latar cerita juga tidak membuat pembaca bosan.
Novel fantasi dengan bahasa yang ringan, mudah dimengerti, dan bersuasana cerita yang hidup juga sarat akan pesan moral tentang arti sebuah pertemanan dan berbagai wujud kasih sayang di dalamnya. Pembaca tidak akan pernah menyesal membacanya.

Cara Bijak Menolak Tembakan dari Cowok



Ditembak sama cowok? Aduuh… White juga pernah ngerasain. Kalo White sih ngerasa… Yah… nge-fly gitu… hehehehe… ^_^  Sayangnya waktu itu White tolak karena memang White gak mau pacaran dulu, White takut keganggu belajarnya karena pacaran.

Di antara kalian pasti ada juga yang berkomitmen seperti White. Ada yang alasannya gak boleh sama ortu, gak boleh sama agama, atau alasan lainnya. Tapi kalo kalian ditembak gimana? Apa langsung say ‘no’ tanpa basa-basi? Aduh, White saranin jangan langsung say ‘no’ deh… oh, bukan… bukannya White mau nyuruh kalian untuk terima tembakan si doi, tapi kalian kudu pahamin perasaan si cowok. Butuh keberanian dan nyali ekstra loh, kalo mau nembak dan memiliki bidadari cantik seperti kalian. J Karena itu, kasian kan kalo kalian langsung say ‘no’ tanpa basa-basi.Terus gimana cara menolaknya secara bijak dan gak nyinggung perasanya? Nih, White kasih tipsnya:
Tanyakan apa yang membuat dia tertarik
“Gue suka sama lo. Lo mau gak jadi pacar gue?” setelah dia bilang begitu, tanyakan dengan nada sesopan dan sesantai mungkin kepada dia apa yang membuat dia suka pada kamu. Misalnya, “mmmm… memang apa yang lo suka dari gue?”, perlu diingat nanyanya harus dengan nada yang wajar. Jangan sampe kayak mau nginterogasi. Nanti dia malah makin gerogi. Gunanya, supaya kamu terkesan peduli sama dia dan juga kamu bisa tahu apa kelebihan kamu.
Tapi kamu juga gak perlu bertanya kalo dia udah jelasin dari awal kenapa dia suka sama kamu, misalnya, “gue pengen lo tau kalo lo itu cantik. Gue suka sama lo… bla bla bla…”
Apresiasikan keberaniannya dan ucapkan terima kasih
White tadi udah bilang kalau seorang cowok nembak itu butuh keberanian yang besar. Jadi ada baiknya kamu sanjung dia atas keberanian dia buat say ‘love’ sama kamu. Ucapkan juga terima kasih, karena dia telah menganggap kamu spesial di matanya. Hal itu bakal nunjukin kalau perasaan dia ke kamu itu gak sia-sia walaupun kamu tolak nantinya, dan juga bakal nunjukin kalau kamu menghargai dia.
Masih banyak yang lebih baik dari kamu
Kalau dia udah bikin kamu nge-fly dengan segala  pujiannya, jelaskan pada dia kalau masih banyak orang yang lebih baik dari kamu, lebih cantik dari kamu, lebih cerdas dari kamu, dll. Jelaskan juga pada dia kalau kamu gak mau dia menyesal memiliki kamu setelah dia baru tahu kalau ada yang lebih baik dari kamu. Hal itu bakal nunjukin ke dia kalau kamu sayang sama dia walaupun gak memiliki.
Lihat reaksi
Kalau dia bilang ke kamu bahwa kamu lah yang terbaik di antara wanita di seluruh dunia ini, jangan nge-fly sekali pun karena dia lagi berusaha ngegombalin kamu. Mana ada manusia yang sempurna di zaman sekarang ini? Iya kan? Jadi lah cewek yang tangguh dari gombalisme cowok.
Tapi kalau reaksinya dia langsung diem dan tampak termenung gitu, berarti dia bukan tipe yang hobi gombal dan biasanya (biasanya loh) ini tandanya kalau dia lagi berusaha memahami perasaan kamu.
Jelaskan baik-baik
Jelaskan ke dia kalau untuk saat ini kamu lagi gak siap untuk berpacaran atau ikatan sejenisnya. Jelaskan pula apa alasan kamu gak mau pacaran, misalnya: pacaran itu ganggu waktu belajar, pacaran itu ngabis-ngabisin waktu, gak boleh sama ortu, dll.
Tapi kalau dia masih ngeyel juga, camkan ini: dia bukan seorang cowok yang baik karena dia gak berusaha mahamin kamu sama sekali. Kalau dia ngeyel, bilang pada dia: “jalan hidup orang itu beda-beda, dan lo gak bisa memaksakan kehendak orang lain,”
Minta maaf
Yang terakhir, minta lah maaf karena kamu gak bisa memenuhi permintaan dia untuk jadi pacarmu. Itu bakal nunjukin kalau kamu sebenarnya menghargai perasaan dia walaupun kamu gak menerima dia dan semakin nunjukin kharismamu sebagai cewek yang baik hati.

Nah, sekarang White mau cerita tentang pengalaman White, waktu itu ada seorang cowok yang ‘saying love’ ke White. White lakuin semua step yang White tulisin tadi, kamu tau si cowok bilang apa? Dia bilang gini: “jawaban yang super dari lo. Dan gue seneng sama jawaban lo, baru kali ini gue denger jawaban dari seorang wanita yang kayak gini,” dan apa yang terjadi dengan White setelah mendengarnya berkata begitu? Aduuh… Aku meroket…!!! Hahaiyy…!!  XD
Iya, bener. White dapet tips-tips ini memang dari pengalaman White sendiri. Kali aja berguna buat kalian. Dan kalian udah liat kan, reaksi cowok kayak apa kalo udah kita terapin tips-tips di atas? Mereka merasa dihargai dan gak disia-siakan. Dia bakal nganggep kamu cewek paling baik yang pernah dia temuin.
Semoga bermanfaat yauw… J

Selasa, 17 April 2012

Resensi Novel "Bad Kitty"



Judul buku                  : Bad Kitty
Penulis                         : Michele Jaffe
Penerjemah               : Christine Lianita Tumangkeng
Penerbit                      : Gagas Media
Kalau kamu suka novel fiksi remaja tapi ingin ada sedikit tantangan di dalamnya, kamu kudu, wajib, fardu, harus nyicipin ini novel, “Bad Kitty”. Beda dengan novel remaja lainnya, terutama sebagian besar novel remaja produksi Indonesia, Michele Jaffe akan membawamu berpetualang bersama Jasmine.
Novel ini bercerita tentang Jasmine, gadis berusia tujuh belas tahun yang selalu bernasib sial. Setiap peristiwa dalam hidupnya selalu menjadi kejadian pahit baginya, terutama saat ia harus kehilangan ibunya. Itu lah yang membuat ia sadar bahwa kekuatan supernya adalah bernasib sial di tiap kesempatan.
Kesialan Jasmine berlanjut saat ia dan keluarganya pergi berlibur ke Las Vegas. Ia harus beberapa kali berurusan dengan pihak keamanan hotel, ia selalu terlihat bodoh di depan cowok impiannya, dan yang lebih sial, dia juga terlibat sebagai pemegang bukti-butki pembunuhan yang telah lama kasusnya ditutup! Well, untung Jasmine punya teman-teman yang siap membantunya.
Namun kesialan Jasmine kali ini adalah yang terbaik. Karena berhasil mengungkap kasus pembunuhan, ia menjadi kebanggaan bagi semua pihak, termasuk si cowok impian.
Novel ini mengajarkan kita untuk menghargai segala peristiwa hidup, sepahit dan sesial apa pun itu, karena semua peristiwa itu pasti ada hikmahnya. Novel ini juga mengajari kita untuk berusaha menjadi baik dengan cara baik yang kita bisa.
Bahasanya juga tidak terlalu berat untuk sebuah novel terjemahan. Bahasanya yang unik, menggelitik, dan sedikit aL@y, membuat kamu pasti betah membacanya. Di novel itu, kamu juga bisa nemuin gaya ‘bahasa gaul’ yang baru, asik kan? Bahasa yang sangat remaja tapi alur cerita yang cocok untuk semua umur, membuat novel ini cocok  untuk siapa saja.

Sabtu, 24 Maret 2012

Ukhty oh Ukhty



Bayangkan kalau kamu yang tiba-tiba dicuek bebek dengan sahabatmu sendiri. Itulah yang terjadi padaku. Dia tiba-tiba berusaha menghindar, tapi kalau usaha menghindarnya tidak berhasil dia akan menganggap aku tidak ada. Sangat garing.
“Hey! Assalamu’alaikum, ukh.”tegurku pura-pura tidak menganggap paranoidku padanya. Dia tetap diam sambil berlalu meninggalkanku bersama salah satu teman sekelasnya. Ya, aku dan dia sebenarnya tidak sekelas, tapi yang membuat kami dekat adalah kesamaan ekstrakurikuler yang kami ikuti.
Aku tetap mempertahankan “positive thinking” padanya. Mungkin karena teman sekelasnya itu, ia pernah cerita padaku kalau banyak teman sekelasnya yang agak alergi dengan anak Rohis, anak alim, dan sejenisnya. Anak remaja zaman sekarang, bisikku dalam hati untuk menenangkan perasaanku.
Mungkin ia takut dijauhi teman-teman sekelasnya jika ia bergaul dengan orang sepertiku. Banyak orang yang ‘ill feel’ terhadapku lantaran jilbabku yang berukuran lebih besar dan panjang dari pada umumnya yang orang-orang kenakan.
Sahabatku itu bernama Amel. Dia seorang gadis yang agak tomboy, baik, dan, ya… bebeapa hal darinya tidak bisa kumengerti. Termasuk sebab ia menjauhiku ini. Jika dipikir-pikir, aku sebaiknya tidak terlalu berharap ia kembali akrab denganku, mungkin saja ia bukan kriteria seorang sahabat yang kuinginkan. Tapi bisakah ia mengerti perasaanku? Aku sulit melepas ia dan aku ingin tahu sebabnya, apa salahku dan apa yang telah kulakukan padanya.
Sejak kecil dimana pertama kali aku mendapat teman dari luar rumah, hal yang paling kubenci adalah permusuhan. Bagiku satu musuh sudah terlalu banyak. Walaupun terkadang aku bisa saja membenci orang, aku selalu berusaha memaafkan keburukan orang tersebut yang membuat kubenci padanya, sehingga tidak ada perang dingin atau permusuhan diantara aku dan orang itu. Tapi akankah Amel memaafkan kesalahanku? Apakah Amel merasa lebih baik jika bermusuhan? Akankah Amel memakai caraku untuk menghindari kebencian dan permusuhan?
***
Dia benar-benar keterlaluan. Aku berusaha bicara padanya seusai solat duha saat istirahat di musolah sekolah, tapi, entah ia terlalu pengecut, ia malah pergi. Saat itu, aku merekrut teman-temanku, yang mengerti masalah antara aku dan Amel, untuk membantuku menaham Amel di musolah. Mereka tahu karena mereka satu kelompok liqo’1 denganku, begitu juga Amel.
Setelah aku selesai solat duha dan begitu pun ia, aku duduk di sampingnya. Ia mengeluh risih dan berusaha pergi, tapi teman-teman yang lain menahannya untuk tetap duduk. Namun ia memberontak, “sudah lah… aku tidak mau kalau harus dipaksa seperti ini!”omelnya, emosiku memuncak, “Mel, aku hanya mau bicara sebentar,” jelasku tenang, ia tidak mendengarkan dan beranjak pergi. “Kamu itu kenapa, sih?” tanyaku disertai linangan air mata. Di musolah tidaklah sepi, belum lagi musolah berdekatan dengan kantin dan adegan itu kontan menjadi tontonan seluruh penghuni musolah, tapi aku tidak peduli.
Demi melihat kepergian Amel, tak terasa aku menangis. Aku duduk di sudut musolah sambil memeluk lututku dan menyembunyikan wajahku yang basah di atas lututku. Teman-teman menghampiriku, Widia, salah satu dari mereka, mengelus pundakku, “sabar ya, Marsha,”katanya dengan lembut.
Kejadian itu kuceritakan pada mbak Asti, tutor liqo’ku, setelah kegiatan liqo’ usai, “mungkin Amel hanya butuh waktu untuk sendiri,”jawab mbak Asti. Hanya aku dan mbak Asti di sana karena teman-teman yang lain sudah pulang. “Inginku hanya satu, mbak, apa sebabnya, itu saja,”keluhku, “mungkin Allah sedang menguji persahabatan kalian. Masalah dalam kehidupan itu ibarat garam pada masakan, tanpanya kehidupan tidak terasa sama sekali,”katanya lagi, “bersabar dan terus berdo’a pada Allah, jangan lupa ibadahnya,”saran mbak Asti.
***
Suatu hari…
“Marsha, aku pikir kamu emang gak adasalah deh, sama Amel,” sahut Indri, salah satu partner-ku dalam pembuatan buletin rohis. “Aku sedang malas membahas itu, Ndri,” jawabku, “ya… sepertinya kamu perlu tahu, deh. Waktu itu dia cerita sama aku, dan dari situ aku tahu Amel itu orangnya gak suka terlalu dekat dengan orang, aku rasa,” jelas Indri. Aku menatapnya remeh, “masalahnya, aku pernah berbuat seperti yang Amel lakukan. Aku pikir dia itu seperti aku, itu sifat alamiku sejak lahir, kurasa. Memang aneh kedengarannya, tapi semua orang pasti punya sifat anehnya masing-masing, kan?” lanjutnya. Aku mengangkat bahu, “dan haruskah itu mengorbankan perasaan orang lain?” tanyaku ketus.
Aku menegur diriku sendiri, memangnya aku bisa dengan mudah menghilangkan sifat burukku? Pertanyaan itu membuatku malu dan tersadar. Aku menemukan jawaban dari semua ini! Amel menjauhiku bukan karena aku salah, tapi tetap saja dalam perkara ini aku bersalah. Aku bersalah karena aku tidak bisa memahaminya dan sifatnya yaitu, tidak suka terlalu dekat dengan orang lain, dan aku bersalah karena aku hanya berusaha memenuhi hajatku tanpa berpikir pada sudut pandang yang lain.
***
maafkan aku yang tidak bisa memahamimu, Mel. Aku tahu sebenarnya kamu ingin menjelaskan semua itu padaku, kan? Mengenai sifatmu itu? Tapi kamu takut aku tidak bisa mengerti dan malah berbalik membencimu. Aku tahu itu, dan baru menyadarinya. Dan kamu benar, aku hampir membencimu.
Sekarang aku berusaha untuk memahamimu. Oke, kita tidak akan terlalu dekat karena aku tahu satu hal, sahabat itu tidak harus selalu bersama tetapi harus memahami maksud bersama. Maafkan aku, Mel. Selama ini aku tidak bisa memahamimu.
Itu lah isi pesanku pada Amel. Aku harap benar dugaanku atas dirinya, ia hanya ingin tidak terlalu dekat denganku.
***
Bagai tidak terjadi apa-apa pada kami berdua, aku dan Amel sudah bisa bersosialisasi seperti biasa. Walaupun tidak dekat seperti dulu, bagiku itu tidak masalah. Toh aku sudah bisa menjadi sahabat yang bisa memahaminya.

Tarian Khayalku


“Menari lah bersamaku
Berputar seiring jalannya waktu
Berputar, berputar, dan berputar
Hingga kunang-kunang berputar di mataku

Tangkap aku
Ketika kujatuh karena kunang-kunang
Rangkul aku
Demikian dekat

Jangan kau lepas
Hingga denting waktu tengah malam menarikku
Menarikku kembali dalam nyata
         Saat kau hanya bisa kupandangi…”

Kamis, 16 Februari 2012

Sedetik Saja

hati pasi tiada warna singgahi
aku gamang
hilang ditelan pucat jiwa
beku teriat simpul kekang sukma

aku ingin bebas
sedetik saja
biarkan jiwaku bermain noda

sedetik saja
demi hapuskan dilema
sedetik saja
gelorakan warna sukma

walau setelahnya harus kututup
harus kukubur rapat
kubasuh kembali warna itu
kuukir kembali gamang itu

biarkan aku merasakannya
sedetik saja

^_^

Kamis, 12 Januari 2012

Recycle Pakaian


Mungkin bagi sobat jilbabers yang udah pake jilbab dari kecil agak bingung masalah penanganan bijak bagi busana muslim yang kita pakai pas masih kecil. Ukurannya sih masih muat sama kita, tapi kalau dipakai, gimana gitu… kayak anak kecil! Ya enggak? Mau disumbangin tapi sayang. Gimana dong? Recycle aja!
Supaya kamu bisa tetap pakai busana muslim anak kecil itu tanpa membuang kesan ABG dan syar’i dari pakaian yang kamu pakai, mix aja pakaian-pakaian itu dengan pakaian lain yang senada.
Yang membuat pakaian itu terkesan untuk anak kecil adalah coraknya yang rame, warnanya yang sama antara atasan dan bawahan, dan warnanya yang cerah. Untuk itu, ada baiknya kamu padukan pakaian yang bercorak dengan pakaian yang polos, dengan catatan warnanya harus senada.
Misal, seperti gambar di bawah ini.
 Rok seperti itu bisa kamu padukan dengan kaos lengan panjang dengan warna yang senada seperti cream, cokelat muda, de el el, dipadu dengan jilbab warna cokelat. Bisa juga kaos warna putih, tapi biar kesannya gak sepi warna, kamu bisa mix dengan jilbab warna cokelat dan jaket wol warna cokelat.
Sedangkan untuk baju itu, bisa kamu padukan dengan rok dasar warna cokelat dan jilbab warna cokelat.
Btw, dari tadi White Riding Hood ngomongin warna cokelat melulu, ya. Kenapa harus cokelat sih? Kenapa gak pake warna yang sama antara atasan dan bawahan? Kan bisa kemeja garis-garis dengan warna sama dipaduin dengan rok seperti di atas, atau kenapa bajunya itu gak pake rok yang warnanya sama aja?
Oke, sobat jilbabers. White Riding Hood bakal jawab. Warna yang sama persis jika dipadukan akan memberi kesan kaku pada pakaian yang kita pakai. Kesannya gak full color gitu.  Apalagi dengan corak yang senada, itu akan memberi kesan kekanak-kanakan.
Kalo White Riding Hood saranin sih, kalo kita mau pake baju yang bercorak hendaknya dipadukan dengan baju yang polos begitu juga sebaliknya, dengan syarat warna yang dipadukan harus senada. Misalnya hijau muda dengan putih, ungu dengan hitam, merah dengan hitam, pink dengan putih, dll.
Demikian dan terima kasih, kembaliannya ambil aja (hah? maksud?). Semoga bermanfaat. J

Pahlawan Malam


 “Kenapa bisa lupa, sih?” omelku, “sorry, Sar. Gue bener-bener lupa. Gue juga capek bener kemaren gara-gara pertandingan Taekwondo,” ucap Tomi penuh sesal, “tapi nanti gimana kalau kita dihukum?”tanyaku kesal, bujang itu diam. Alasan pertandingan yang harus ia ikuti itu tak kuanggap sebagai alasan logis, walau mengingat ia memang berhasil menyabet medali emas.
Selalu begitu. Tomi adalah orang paling menyebalkan. Semua yang ia lakukan pasti aku yang kena getahnya. Dua hari yang lalu ia berhasil membuatku kesal karena ia menabrakku hingga flash disk milikku, yang ada di tanganku, melayang dan mendarat dengan kerasnya di lantai. Alhasil, semua data di dalamnya ikut raib.
Hari ini ia membuatku kesal karena ia lupa membawa makalah Biologi untuk tugas kelompokku, padahal hari ini kami harus mengumpulnya. Sungguh sial juga mengapa aku harus satu kelompok, berdua dengannya.
“Ya sudah, tapi kalian harus mengumpulkannya besok, dengan syarat nilai kalian dikurangi dua poin,”kata bu Nurul, guru Biologi kami yang terkenal sangat disiplin tapi tidak suka kekerasan. Dikurangi dua poin? Itu artinya kami harus mendapat poin sekurang-kurangnya 72, dan untuk medapatkannya aku harus menambahkan lagi materi-maeri yang ada di dalamnya! Ya ampun, padahal butuh waktu tiga hari begadang aku mengrjakannya. Aku tidak mau membagi pekerjaan ini pada Tomi, pasti iamembuat ulah kembali nantinya.
Sore hari setelah pulang sekolah, aku mulai mengerjakan makalahnya. Tidak terasa hingga malam menjalar dan akhirnya lengkap sudah makalah itu. Aku mulai mencetaknya dan, jeng! Kertas putih yang kumasukkan dalam printer hanya berhiaskan tulisan semu, tidak jelas. Sial! Rupanya tintanya habis. Waktu menunjukan pukul sebelas malam, toko alat tulis pasti sudah tutup.
Aku dongkol bukan main. Akhirnya aku pergi tidur tanpa memikirkan apa yang akan terjadi besok tanpa makalah itu.
***
“Tomi dan Sari, kemari!” panggil bu Nurul. Aku menghampiri meja guru dengan jantung berdegup kencang. Tuhan, tolong aku! “dimana Tomi?” tanyanya saat melihat hanya aku yang datang menghampirinya, “saya tidak tahu, bu. Mungkin ia terlambat atau mungkin tidak datang,” jelasku. Aku sudah tahu apa yang akan terjadi, kuputuskan untuk menjelaskannya, “bu, maafkan saya. Tadi malam saya sudah berusaha, tapi ternyata tinta printer saya habis dan tidak sempat lagi hendak membelinya,”jelasku dengan suara bergetar. Bu Nurul membaca ketakutanku, “hari ini adalah waktu akhirnya, ibu bukan bermaksud untuk menyusahkanmu tapi kamu tahu, senin yang akan datang itu sudah ujian semester dan nilai semua mata pelajaran harus terkumpul tiga hari sebelum waktu ujian, tepatnya hari ini,”jelas bu Nurul.
Tiba-tiba, “permisi, bu,” Tomi tiba-tiba datang, “maaf saya terlambat,” dia menghampiri aku dan bu Nurul, kemudian ia menyerahkan sejilid kertas, “dan ini makalahnya,”ujarnya santai. Aku takjub.
Bu Nurul tersenyum bangga dan mulai menelaah isi makalah tadi. “Thanks” bisikku, “gue ngerjain itu sampe bangun kesiangan, Sar!” bisik Tomi.
***
“Maaf ya Sari, malam ini papa lembur. Kerjaan gak bisa ditinggal, papa gak bisa jemput kamu di tempat bimbel,” tubuhku melemas mendengar suara papa di ponselku. Jam menunjukan pukul delapan malam. “Kamu menginap dulu aja di rumah tante Rani, kan gak jauh dari situ,” kata papa, walaupun dengan nada tidak yakin. “Tapi pa, papa tahu kan kelakuan sepupu-sepupuku yang nakal itu? Buku-bukuku bisa gak selamat dicoret-coret mereka, dan apa papa yakin rumah tante Rani muat kalo aku menginap di sana?” sanggahku, “oke, papa akan jemput kamu malam ini tapi gak sekarang, sambil nunggu papa kamu ke rumah tante Rani dulu,” kututup ponselku tanpa menyetujui saran papaku, tapi aku beranjak menuju rumah tanteku. Aku mulai membayangkan nasib buku-buku pelajaranku yang menumpuk di ranselku ini karena aku langsung pergi untuk bimbel tanpa pulang ke rumah terlebih dahulu.
Aku mulai mengandai-andai, jika saja aku belum kelas tiga SMA, pasti aku tidak perlu les sampai malam, kalau saja mama tidak bercerai dengan papa mungkin mama bisa menjemputku sekarang, seandainya rmah mama ada di dekat sini pasti aku tidak perlu pergi ke rumah tante.
Jalanan mulai lengang, dan di daerah ini memang didominasi gedung-gedung umum dan perkantoran, kulongok arlojiku, jam delapan malam, pantas saja. Tidak ada seorang pun di jalanan, hanya empat orang pemuda yang sedang berkumpul di pinggir jalan sambil mengisap rokok. Entah mengapa perasaanku tidak enak.
“Cewek,” sapa salah satu dari mereka saat aku melintasi mereka. Aku hanya pasang senyum dingin sambil berjalan. “Mau kemana? Gabung sama kita, yuk!” ajaknya, “enggak, terima kasih, saya masih punya banyak PR,” tolakku sekenanya, mereka mulai tampak memaksa dan perasaanku makin tidak enak. Mereka mulai memegangiku, aku mulai risih, “tidak,” jawabku tegas.
Aku benar-benar berharap ada seseorang yang menolong, Tuhan! Lirihku dalam hati. Namun beberapa orang yang masih melintasi jalanan tidak ada yang menepi untuk menolongku. Aku ingin meraih ponselku untuk mencari bantuan namun mereka memegangi kedua tanganku, “jangan! Tolong!” aku mulai berteriak, sia-sia saja karena tidak ada pemukiman warga dan jarang ada kendaraan melintas di sini.
Aku mendengar langkah kaki yang mendekat di sertai sosok hitam yang mendekat, jangan-jangan pemimpin mereka, batinku. “Apa kalian itu pria sejati kalau kalian memaksa seorang gadis tidak berdaya?” ujar sosok hitam itu. Ia mengenakan jaket kulit hitam, celana dasar hitam, dan helm berwarna hitam, tingginya sekitar 170 cm dan dari suaranya yang terdengar tadi sepertinya ia seorang pria yang masih muda. Tapi mengapa aku merasa mengenali suara itu?
“Eh, apa urusan lo?” ujar salah satu pemuda yang menahanku tadi, “gue ngerasa kalian gak pantes memperlakukan dia seperti itu,” ujar si hitam itu mantap, “alah! Sok dewasa omongan lo!” ejek salah satu pemuda, “daripada kalian sok anak kecil,” balas si hitam santai, “weh… tengil ini orang, ayo cuy! Kita kasih dia pelajaran berharga,” ajak pemuda itu pada yang lain. “Sari, menyingkir dari situ,” seru si Hitam yang tentu saja membuatku terkejut karena ia tahu namaku, mengapa ia bisa tahu?
Perkelahian terjadi! Salah seorang pemuda mencoba meninjunya namun berhasil ditepis olehnya. Menyusul satu tendangan namun berhasil ditahannya kemudian orang itu didorongnya hingga tersungkur ke tanah. Melihat perkelahian itu sepertinya sekelompok pemuda itu tidak memiliki keahlian berkelahi, hanya asal pukul, tendang, dan meninju. Lain dengan si Hitam yang sepertinya sangat terampil dalam menangkis, mengelak, bahkan memberi serangan. Aku merasa kenal dengan cara berkelahi itu.
Hanya sesekali si hitam berhasil ditinju oleh salah seorang pemuda. Si Hitam akhirnya mampu membuat sekelompok pemuda itu jatuh dan merintih kesakitan. Kesempatan itu tak disia-siakannya. Ia menarik tanganku dan berlari bersamaku.
Aku tidak mampu bertanya hendak kemana, tapi ia membawaku masuk ke gerbang sebuah kantor tepat di depan tempat aku ditahan tadi. Di pelataran parkir kantor itu hanya ada sebuah sepeda motor Honda Mega Pro. Ia merogoh sakunya dan mengeluarkan kunci. Kami berlari menuju sepeda motor itu. Ia menyalakan motor itu, “naik,” suruhnya, seketika kami melesat meninggalkan perkantoran itu. sekelompok pemuda itu mulai bangkit untuk berusaha mengentikan motor yang kunaiki bersama si Hitam, namun si Hitam memepercepat laju motor hingga mereka tak sempat melakukannya.
Aku sudah terbebas dari pemuda-pemuda kurang ajar itu, tapi bagaimana dengan si Hitam? Apakah ia akan melakukan hal yang lebih buruk padaku ketimbang mereka? Aku was-was. “Jangan takut, gue bakal nganterin lo pulang,” katanya seolah bisa membaca pikiranku, dan seolah bisa membaca pikiranku ia tidak bertanya ke arah mana rumahku, ia juga mengendarai sepeda motor ke jalan menuju rumahku. Sedetik kemudian aku baru ingat kalau kunci rumah tidak ada padaku, dan papa tiba di rumah baru larut malam nanti. “Maaf, di rumah gue enggak ada orang, bisa enggak anterin gue ke rumah tante gue?” kataku, “boleh, di daerah mana?” tanyanya, aku menyebutkan alamat rumah tanteku itu.
***
Aku benar-benar tidak tahu siapa si Hitam ini, tapi entah mengapa ia mengantarkanku sampai tujuan dengan selamat! Hal itu membuat aku yakin kalau dia orang yang baik, siapa pun pria kostum serba hitam ini. “Thanks ya, lo ‘pahlawan malam’ gue,” kataku saat aku telah turun dari sepeda motornya, “enggak masalah,” dari hembus napasnya aku tahu ia sedang tersenyum.
“Seingat gue, tadi lo kena tinju sama cowok-cowok tengil itu, gue yakin itu pasti jadi luka di wajah lo. Masuk yuk! Gue yakin tante gue punya alat-alat P3K,” tawarku, “gak seburuk kelihatannya, kok. Gue harus cepet pulang,” tolaknya sambil menyalakan mesin Honda Mega Pro-nya. “Tunggu!” cegahku sambil meraih lengan kuatnya, “gue cuma mau tahu, siapa lo sebenarnya? Kenapa lo tahu jalan arah ke rumah gue? Dan kenapa lo tahu nama gue?” tanyaku. Kaca helmnya yang gelap menutupi kedua matanya, namun aku tahu kalau ia sedang menatapku tajam. Lima detik ia menatapku, lalu ia menggeleng kemudian berlalu meninggalkanku. Aku mengingat-ingat nomor plat motor itu, siapa tahu kami bisa bertemu lagi, batinku.
Aku berjalan menuju pintu rumah, kuketuk pintu dan seorang wanita cantik berusia tiga puluhan menyambutku. Aku tidak percaya aku masih bisa selamat, padahal setengah jam yang lalu aku sangat ketakutan. Kupeluk wanita yang adalah tante Rani sambil terisak, “Sari? Ada apa?” tanyanya, aku hanya bisa menjawab dengan tangisku.
***

Lagi. Tomi membuat ulah. Dia menghilangkan flash disk milikku yang kupinjamkan padanya. Aku kesal bukan main. “Nanti gue ganti deh,” katanya memohon maaf, “bukan masalah flash disk-nya lo, Tomi, tapi data yang ada di dalamnya,” ujarku dengan rasa dongkol. Aku melihat raut wajah Tomi yang benar-benar menyesal, tapi karena rasa kesalku, kuabaikan rasa sesalnya.
Hari ini jadwalku untuk mengikuti bimbel. Detik demi detik hari itu hanya membuatku kesal. Trauma pulang malam hari, khawatir kejadian kemarin malam terulang lagi, flash disk hilang, dan rasa kesal pada Tomi bercampur di kepalaku.
 Akhirny jam belajar telah usai. Aku keluar gedung namun papa belum datang menjemput. Aku menelpon papaku, “papa bisa jemput kan?” tanyaku, “iya, papa lagi di jalan. Tunggu, ya. Papa janji kejadian kemarin gak akan terulang lagi,” jawab papa, kalau tidak akan terulang, bagaimana jika terjadi hal yang lebih buruk?
Jalanan mulai sepi, tapi yang kutunggu belum juga datang. “Itu ceweknya bos,” ujar seseorang. Aku menoleh ke asal suara itu, sekelompok pria datang mendekatiku. Mereka mengepungku. “Gue denger dari anak buah gue, lo coba macam-macam sama mereka, iya?” tanya pria bertubuh paling besar. Aku hanya diam ketakutan. “Bukan dia, bos. Tapi orang lain, cowok pake baju serba hitam, motornya Mega Pro,” ujar seorang anak buahnya, “dia gak ngapa-ngapain. Cuma nonton aja,” tambahnya, “tolong sih, bang. Saya cuma mau pulang,” kataku memohon, “iya iya, lo gak bakal kami apa-apain tapi lo harus kasih tahu siapa cowok yang habis nolongin lo kemarin,” katanya, “saya gak tahu, bang. Tiba-tiba dia datang dan nolongin saya, waktu dia mengantar saya pulang saya tanya dia itu siapa,tapi dia gak jawab,”jawabku, “bener?” tanya si pria besar, aku mengangguk sambil ketakutan.
Tiba-tiba saja Honda Mega Pro itu datang bersama pengendaranya yaitu si Pahawan Malamku. “Nah! Ini dia orangnya!” ujar seorang anak buahnya, “ngapain lagi kalian gangguin dia?” tanya si Pahlawan Malam, “jadi lo yang udah kurang ajar sama anak buah gue?” kata si Bos, “gue kurang ajar? Anak buah lo itu yang kurang ajar gangguin cewek, masih SMA lagi,” jawabnya dengan nada tidak mau kalah. “O… Nantangin ini anak. Ayo maju!” seru si Bos, “Bos aja deh! Kami udah kapok kena tonjokan dari dia,” jawab salah satu anak buahnya, “banci!!” hardik si Bos. Dia mulai berkelahi dengan si Pahlawan Malam.
Aku mundur untuk menjauhkan diri dari perhatian mereka. Diam-diam aku menekan 112 di ponselku. “Tolong panggilkan polisi. Saya di jalan Raya Kota nomor 17,” kataku di ponsel dengan suara bergetar. Selagi aku menelpon, mereka masih sibuk berkelahi, sementara para anak buah sibuk menonton tanpa memperhatikanku yang baru saja menelpon polisi.
Polisi belum juga datang, aku makin was-was walau sejauh ini belum ada tanda menyerah dari penolongku. Tanpa diduga, si Bos mengeluarkan sebilah belati dan menusukkan tanpa ampun ke perut si Pahlawan Malam, “JANGAN..!!!” teriakku, namun hal itu tidak mengentikan aksinya. Ia menusuknya lagi. Ketakutanku mencapai puncaknya, secara refleks aku mencoba menahan tangan si Bos. Aku mengabaikan kemungkinan bahwa si Bos bisa saja membunuhku juga. Aku didorongnya secara kasar, aku jatuh.
Baru pada saat itu aku mendengar sirine polisi. “Bos, ada polisi, Bos,” ujar anak buahnya, mereka ketakutan,“ayo cabut!” mereka pun lari. Aku mendekati tubuh tidak berdaya itu, aku berlutut disampingnya, “Sari…” bisiknya pelan dengan merintih, aku menggenggam tangannya erat sekali sambil menghujani tubuhnya dengan air mataku.
Lima mobil polisi mengejar kawanan penjahat itu dan satu mobil polisi mendekati kami. “Selamat malam, dik,” kata seorang polisi sambil memberi hormat padaku, aku hanya diam sambil menatapnya, “maaf kami datang terlambat” kata polisi itu padaku, aku masih tetap diam. Tiba-tiba mobil papa datang, “Sari!” panggil papa, “papa! Tolong, pa. Kita bawa dia ke rumah sakit sekarang,” kataku. Tanpa ada pertanyaan papa dan dua orang polisi membantu meletakkan si Pahlawan Malam ke dalam mobil papa. Aku menemaninya di kursi belakang. Aku menatap helm hitamnya, dia masih sadar namun sangat lemah, kubuka helm itu, dan isak tangisku meledak. Ternyata Pahlawan Malamku adalah… Tomi!
Matanya yang sayu menatapku yang sedang menangis, dia hanya tersenyum. Aku memeluknya erat sekali, dan kurasakan ia juga membalas pelukanku. Aku bisa merasakan detak jantungnya yang lemah dan napasnya yang demikian berat karena lukanya, luka tusukan di perutnya, juga luka di perasaannya karena perlakuanku padanya selama ini. Maafkan aku,Tomi…
***

Kamis, 14 Juli 2011

Si Manis Jembatan Ilmu

Banyak orang yang  tahu tentang “Si Manis Jembatan Ancol”. Ya, kisah seorang gadis yang hidupnya berakhir dengan tragis. Hampir sama dengan “Si Manis Jembatan Ilmu”. “Si Manis” ini tersiksa walau dirinya manis karena berguna bagi wawasan ilmu pengetahuan. “Si Manis” ini adalah buku.
“Si Manis Jembatan Ilmu”, tidak dipedulikan, terbengkalai, dan dianggap membosankan. Dia bermaksud baik untuk menghubungkan kita dengan ilmu, betapa manisnya dia. Sekarang tinggal kita yang mau atau tidak diberi kemanisan sikapnya.
Sering kita dengar bahwa taraf pendidikan di Indonesia rendah. Akibatnya, Indonesia tidak memiliki SDM (sumber daya manusia) yang berkualitas. Apa yang menyebabkan rendahnya taraf pendidikan Indonesia rendah? Salah satunya adalah kurangnya minat baca.
Kita tahu bahwa minat baca di Indonesia rendah. Kondisi ini disebabkan beberapa faktor, antara lain: tidak adanya kemauan dari masyarakat, tidak tersedianya kesempatan seperti tidakadanya perpustakaan, tingginya angka buta huruf, dan lain-lain. Kondisi ini diperburuk dengan mewabahnya acara-acara di televisi yang kurang mendidik. Orang-orang rela mengeluarkan uang berjuta-juta untuk membeli pesawat televisi ketimbang mengeluarkan uang tak lebih dari Rp 100.000,00 untuk membeli buku-buku yang bermanfaat.
Kondisi di Indonesia 360° berbeda dengan Jepang yang memiliki SDM berkualitas tinggi. Faktanya, orang-orang Jepang lebih suka membaca buku ketimbang menonton televisi. Di negeri sakura tersebut, acara-acara televisi banyak yang tidak laku karena rakyatnya yang tidak gemar menonton. Alhasil, mereka memiliki SDM yang berkualitas.
Membaca adalah cara aman untuk memperoleh ilmu ketimbang televisi. Menurut Budi Haryanto, Ph. D., M.Sc., MSPH., ahli kesehatan lingkungan dari Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia, terlalu lama menonton televisi dapat menimbulkan amblyopia atau mata malas, khususnya pada anak-anak. Ini disebabkan karena gangguan transmisi (pengiriman)gambar yang kita terima secara visual saat menuju otak. Hal ini juga mengakibatkan kita malas melakukan apapun. Bandingkan dengan membaca buku. Selain murah, tanpa dampak yang berbahaya, dan yang terpenting kita dapat memilih mana buku yang bermanfaat mana yang tidak.
Coba bayangkan apa yang terjadi jika anak-anak atau adik-adik kita mengalami amblyiopia karena terlalu lama menonton televisi, bayangkan apa yang terjadi jika kita meniru kebiasaan membaca dari orang-orang Jepang. Niscaya meningkat SDM negeri ini.
Pendidikan dapat diperoleh tidak hanya di lembaga-lembaga formal seperti sekolah. Seseorang bisa saja cerdas tanpa sekolah asal ia membaca buku yang bermanfaat. Belum lagi masih banyak orang yang tidak sadar akan pentingnya pendidikan, masih banyak orang yang tidak dapat mencicipi manisnya duduk di kelas sambil menerima pendidikan yang bermanfaat. Untuk itu, membaca adalah alternatifnya untuk mendapatkan pendidikan.
Untuk meninggkatkan minat baca pada masyarakat tentu harus melalui beberapa dorongan yang efektif, misalnya mengadakan perpustakaan umum di sejumlah sudut kota, lebih bagus lagi jika ada  ruang khusus anak-anak. Dengan demikian, anak-anak telah terbiasa membaca sejak kecil dan kebiasaan yang didapat sejak kecil akan dibawanya hingga dewasa nanti.
Dan juga usaha pemberantasan buta huruf, terutama di desa-desa terpencil yang sangat rentan akan buta huruf karena latar b elakang ekonomi dan sebagainnya.
Jangan biarkan “Si Manis Jembatan Ilmu” ini terbunuh selamanya begitu saja. Sungguh disayangkan, “Si Manis” ini terbengkalai tiada yang peduli, padahal ia berusaha memberikan manisnya pada dunia pendidikan Indonesia yang sakit-sakitan ini. Oleh karena itu, membaca buku memiliki peran penting dalam meningkatkan taraf pendidikan di Indonesia.

*artikel ini berhasil meraih penghargaan sebagai Juara 2 Artikel Terbaik dalam event "Semarak Hardiknas 2011" di Bandarlampung

Sabtu, 26 Maret 2011

Berlian Terbuang VS Sampah Teranggap


“Jum’at, 3 Juni 2010
My diary, hari ini aku sedih sekali. Mungkin benar kata orang-orang bahwa jangan bermimpi terlalu tinggi. Impianku untuk menjadi seorang jurnalis andal telah musnah. Bagaimana tidak? Tes SMAN Pilihan yang sebegitu mudahnya saja tak bisa kulalui dengan keberhasilan. Aku tahu setiap kehidupan kita pasti mengalami kegagalan. Tapi, harus sepedih inikah? Aku tidak tahu harus melanjutkan kemana. Aku bingung, sangat bingung.
Namun yang paling menyakitkan bagiku adalah, mengapa teman-temanku yang nilai ujian sekolahnya jauh di bawahku bisa lolos dari tes itu. Aku merasa bodoh, sangat bodoh.”
Begitulah Calista menulis di buku hariannya. Ia masih belum menerima kenyataan pahit yang dialaminya ini. Calista menghela nafas. Ia memandang handycamnya dengan lesu. Biasanya ia menggunakan handycam itu untuk membuat film dokumenter singkat, itulah hobinya sesuai dengan cita-citanya yang ingin menjadi jurnalis andal. Namun sekarang ia patah semangat karena kegagalan ini.
Ia menyimpan handycam itu dalam lemari, juga flashdisk dan sejumlah vcd yang bertuliskan “Pesta Pernikahan Adat Lampung”, “Impian Dibalik Guguran Daun”, dan berbagai judul film documenter karyanya yang sengaja ia tulis di sampul vcd-vcd itu. Rasanya ia tidak mau lagi melihat benda-benda itu lagi.
Ia meraih ponselnya dan mengirim pesan pada seorang temannya yang juga mendaftar sebagai calon siswa baru di SMAN Pilihan.
“Hai, Fitria. Bagaimana tes SMAN-mu?
Kamu terpilih sebagai salah satu siswi di SMAN Pilihan?”
Tak lama kemudian, si penerima pesan membalas.
“tidak, aku gagal. Kudengar kamu juga gagal, ya?
Untung aku diterima di Madrasah Aliyah Negeri Harapan,jadi aku tak perlu mendaftar di SMA swasta yang pasti bayarannya mahal.”
Akhirnya kedua gadis itu asyik bersenam jari pada ponsel masing-masing. Dalam diri Calista timbul rasa heran. Mengapa Fitria, teman tercerdas di kelasnya ini tidak terpilih tetapi teman yang berada jauh dibawahnya yang terpilih? Ada apa dibalik semua ini? Pertanyaan itu masih tidak terjawab dalam benak Calista.
***
Esok harinya Calista masih memikirkan masalahnya. Ia mengambil selembar brosur SMA Islam. Ia membaca rincian biaya, persyaratan pendaftaran, dan semua tentang SMA tersebut. Ia mengela nafas. “Mengapa dunia menjadi tidak adil? Mengapa aku tidak lulus? Padahal nilai ujian nasionalku memuaskan, aku telah belajar sungguh-sungguh demi tes penerimaan siswa baru saat itu. Mengapa harus sepahit ini?” pikir Calista. “Mengapa mereka yang nilai ujian nasionalnya tidak sebagus aku yang terpilih?”
Calista melamun di kursi ruang keluarga, saat ummi menghampirinya. “Calista, kamu lupa ya, janji ummi kemarin? Kita kan mau pergi ke pantai sekeluarga.”kata ummi dengan lembut. Calista mengela nafas. “Kan ummi janjinya kalau Calista diterima di SMAN Pilihan, baru ummi tepati janji ummi.” Jawab Calista dengan lemas tanpa melirik sedikit pun wajah ummi. “Calista, ummi tahu kamu masih sedih karena kamu tidak lulus dalam tes kemarin. Secara pribadi ummi juga kecewa, tapi ummi yakin pasti Allah punya alasan mengapa Calista tidak diberi izin dari-Nya untuk bersekolah di SMAN Pilihan.” kata ummi. “Calista lulus atau tidak, tidak akan menjadi penghalang bagi kita untuk liburan bersama keluarga, kan?” lanjut ummi. “Mungkin Calista gak usah ikut, mi. Calista di rumah saja.” Kata Calista sambil berjalan menuju kamarnya.
Ia merebahkan tubuhnya ke atas tempat tidur. Terngiang kembali wajah Bu Tina, guru yang selalu memompa semangatnya dalam menjalani ujian saat ia SMP. Terbayang bagaimana keras dan gigihnya dukungan dari beliau pada dirinya dan teman-temannya saat menjelang ujian nasional, terbayang pula bagaimana tulusnya beliau mengajar. Berkat Bu Tina, Calista menyukai matematika. Berkat Bu Tina, Calista bersemangat belajar. Calista merasa telah mengecewakan gurunya itu.
Terngiang juga wajah teman-temannya yang sering membuat Bu Tina kesal, yang sering membuat Bu Tina kecewa, hingga terkadang Calista sendiri kesal dan menyebut mereka “manusia tak tahu diuntung”. Namun pada akhirnya mereka berhasil lulus dalam seleksi penerimaan siswa baru di SMAN Pilihan. Terbayang begitu jelas mereka tertawa di atas kekalahan Calista, mereka mengacungkan ibu jari yang dibalik di depan batang hidungnya. Air mata Calista mengalir dan membawanya kembali ke alam nyata. Lalu ia menangis tersedu.
Ia masih terisak saat kepalanya kembali memikirkan Bu Tina. Ia masih ingat kata-kata motivasi dari Bu Tina. “Jika berlian tergeletak di atas tumpukan sampah, pasti tanpa pikir panjang seseorang akan mengambil berlian tersebut. Dan jika sampah ditaruh di kotak berlian, tanpa pikir panjang semua orang tak akan menghargai sampah itu seberapapun mahal harganya atau seberapapun indah tempat ia diletakkan. Artinya seburuk apapun sekolah kalian nanti, jika kalian pintar tetaplah pintar. Jangan pedulikan apakah SMAN, SMA Swasta, atau SMA Internasional sekolah kalian nanti.” Kata beliau. “Takapa kita menjadi berlian yang terbuang, toh kita masih bias berguna bagi diri sendiri. Daripada kita menjadi sampah teranggap, yang akan menjadi bibit-bibit kuman yang akan menjadi parasit bagi bangsa kita. Dan jangan pernah putus asa atas apa yang kalian cita-citakan.” Lanjutnya.
Ia merasa bersalah. Tiba-tiba saja Calista terlonjak karena pikirannya sendiri. Ia baru menyadari bahwa jika ia hanya menangis dan berputus asa justru ia mengecewakan Bu Tina. Ia menghapus air matanya dan berkata dalam hati, “aku akan menjadi seperti yang Bu Tina inginkan. Aku akan menjadi berlian walaupun berada di tempat sampah. Seperti kata Bu Tina.” Ia menjadi semangat lagi.
Calista menghampiri ummi yang sedang mempersiapkan bekal untuk pergi ke pantai nanti. “Ummi, Calista mau ikut.” Kata Calista bersemangat lagi. Ummi masih bertanya-tanya mengapa putrid kesayangannya itu menjadi bersemangat lagi. Ummi memandang kepergian Calista dengan heran, namun juga bersyukur karena putrinya tidak murung lagi.
Ia langsung menuju kamar mandi dan mempersiapkan segalanya untuk ke pantai nanti. Tak lupa ia mengeluarkan handycamnya dari lemari dan memasukannya ke dalam tas bersama laptopnya.”Aku ‘masih’ seorang jurnalis,” pikirnya.
***
Akhirnya mereka semua sampai di pantai Mutun. Ia langsung beraksi dengan handycamnya. Sambil mengambil gambar ia memuji keindahan pantai tersebut. Tarif masuk yang murah dan pemandangan yang memuaskan. Dan terkadang seunit banana boat melintas di air laut yang jernih, terkadang jet ski atau pun sejumlah perahu kecil.
Setelah ia selesai mengambil gambar, ia mulai mengotak-atik rekamannya. Ia memotong gambar yang tidak perlu, menambahkan teks, dan lain-lain. Setelah ia selesai dengan film dokumenternya yang baru, ia berniat untuk menulis cerita tentang kejadian yang sempat terjadi padanya. Kejadian itu ia ketik rapi dan ia beri judul: “Berlian Terbuang vs Sampah Teranggap”. Tak lupa ia juga mengisahkan tentang Bu Tina.
***

Share

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites