Senin, 18 Juni 2012

Resensi Novel "The 13 Treasures"



Judul Buku          : “Tiga Belas Pusaka Peri”
Judul Asli             : The 13 Treasures
Penulis                 : Michelle Harrison
Penerjemah       : Endes Runi
Penerbit              : Dastan Books
Jumlah Halaman  : 350 halaman

Cerita peri yang sudah pada umumnya kita baca, pasti menceritakan tentang peri yang baik hati, penolong manusia, bersahabat, dan berpenampilan anggun. Tapi berbeda dengan novel ini, “The 13 Treasures.”
Novel ini menceritakan tentang peri-peri yang tidak suka diganggu atau diketahui keberadaannya oleh manusia. Jika informasi tentang mereka diketahui oleh manusia, mereka mau melakukanapapun demi tertutupnya atau terhapusnya informasimengenai mereka. Tidak hanya itu, mereka juga tidak ungkan untuk mencuri anak manusia. Adalah karya Michelle Harrison, penulis novel fantasi yang keren ini.
Sinopsis “The 13 Treasures”
Tanya, gadis berusia dua belas tahun yang memiliki penglihatan kedua  yaitu kemampuan untuk melihat peri, monster hutan, dan kurcaci. Kemampuannya itu malah membuat peri terganggu karena Tanya sering menuliskan tentang mereka di buku hariannya. Akibatnya Tanya sering mendapat hukuman dari para peri. Tanya menganggap kemampuannya ini seperti kutukan baginya.
Masalah sering menimpanya, bahkan ia sering dianggap aneh. Ibunya yang tidak tahan dengan semua masalah yang menimpanya, akhirnya mengirimnya ke rumah neneknya sebagai hukuman.
Neneknya tinggal di sebuah manor  kuno di desa terpencil. Manor itu memiliki banyak lorong bawah tanah yang misterius. Di sana,Tanya memiliki seorang teman bernama Fabian. Fabian adalah putra dari pria aneh yang menjadi pengurus manor itu. Fabian memiliki seorang kakek yang sudah pensiun sebagai pengurus manor karena mengalami gangguan jiwa.
Suatu hari, Tanya menemukan sebuah potongan koran yang memberitakan bahwa ada seorang gadis bernama Morwena Bloom, yang hilang lima puluh tahun yang lalu di Hangman’s Wood, hutan misterius yang terdapat beberapa lubang-lubang yang dalam. Ketika Tanya menanyakan mengenai gadis itu, neneknya hanya menjawab bahwa gadis itu adalah temannya. Tanya semakin penasaran karena sikap neneknya yang seperti menyembunyikan sesuatu.
Suatu hari, Tanya dan Fabian terpaksa masuk ke dalam hutan itu untuk mencari anjingnya yang kabur ke dalam hutan. Di hutan itu Tanya melihat banyak para peri hidup di sana, tentu saja Fabian tidak melihat apa pun. Saat mencari anjingnya, mereka tersesat, hingga mereka bertemu dengan seorang gadis bergaun hijau. Gadis itu menawarkan pertolongan untuk mencari anjing mereka. Saat mereka sedang berjalan membuntuti gadis itu, Tanya tersandung dan menabrak ayah Fabian yang sedang berburu di dalam hutan. Tetapi tanpa sepengetahuan Tanya dan Fabian, gadis itu menghilang.
Di terowongn misterius dalam manor kuno itu, ia bertemu dengan Red. Penyusup rumah dan pencuri bayi yang ternyata bermaksud baik dalam aksinya. Dari penjelasan Red, Tanya memiliki banyak pengetahuan tentang peri.
Fabian dan Tanya akhirnya mengetahui bahwa gadis yang mereka temui di hutan itu adalah Morwena Bloom. Mereka ingin menolong Morwena keluar dari hutan itu dan membuktikan bahwa kakek Fabian tidak bersalah. Tetapi usaha itu malah mencelakakan Tanya. Morwena yang menghilang karena ia memutuskan untuk tinggal di dalam dunia peri lima puluh tahun lalu, rupanya telah merencanakan upacara pertukaran dirinya dengan Tanya.
Upacara itu akan berakibat Tanya tinggal dalam dunia peri sementara Morwena akan kembali ke dunia manusia dengan tetap berusia empat belas tahun. Tetapi dengan usaha yang berbahaya dan berpacu dengan waktu, Fabian berhasil mematahkan kunci awet muda Morwena, sementara posisi Tanya digantikan oleh Red. Akhirnya Tanya dan Morwena bisa kembali ke dunia manusia. Namun karena kunci awet muda Morwena telah musnah, Morwena berubah menjadi tua dan mengerikan hingga penyakit gagal jantung menewaskannya.
Tanya kembali ke manor bersama Fabian dan ayahnya. Ia menceritakan semua petualangannya pada neneknya, Fabian, dan ayah Fabian.
Novel ini memiliki banyak latar namun bisa diceritakan denganbaik oleh penulis dengan plot yang cepat sehingga pembaca seolah tidak ingin berhenti membacanya. Satu latar cerita juga tidak membuat pembaca bosan.
Novel fantasi dengan bahasa yang ringan, mudah dimengerti, dan bersuasana cerita yang hidup juga sarat akan pesan moral tentang arti sebuah pertemanan dan berbagai wujud kasih sayang di dalamnya. Pembaca tidak akan pernah menyesal membacanya.

0 komentar:

Posting Komentar

Ada kesalahan di dalam gadget ini

Share

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites