Senin, 26 Mei 2014

Drama Monolong "KIta Semua adalah Koruptor"

beberapa pekan lalu, aku mengikuti pemilihan mahasiswa terbaik di kampusku. Dalam acar itu, peserta diwajibkan menampilkan pertunjukan bkat terbaiknya. Akhirnya aku memilih untuk menampilkan drama monolog. Ide cerita kudapatkan dari keluh kesahku pada kemelut di negeri ini. "Tikus Negara".

judul: "Kita Semua adalah Koruptor"
karya: Ica

Mereka menyebutku koruptor. Pencuri uang rakyat yang ulung. Mereka bilang, aku pemimpin lalim. Mereka memaksaku mendekam di rutan ini. Sebut lah aku koruptor. Hujat aku sepuasnya. Ayo hujat! Hingga kalian menyadari, kalian sedang menghujat diri kalian sendiri.


Kalian bilang, pemimpin kalian korupsi. Kalian bilang pemimpin kalian lalim. Apa kalian tidak mengenal kalimat: “pemimpin adalah cerminan dari rakyatnya”? ya, pemimpin kalian adalah cerminan dari perilaku kalian. Jadi kalian juga koruptor? Ya. Hahaha. Sudah merasakan bahwa kalian telah menghujat diri sendiri? 

Oh, jangan. Jangan katakan kalian tidak pernah korupsi. Kalian pernah, bahkan sering.
Korupsi yang kami lakukan adalah mencuri uang yang harusnya menjadi hak kalian, rakyat-rakyat.  Korupsi yang kami lakukan adalah tidak melaksanakan kewajiban kami sebagai pemimpin kalian. Korupsi yang kalian lakukan adalah mencuri harta sesama kalian. Jawab pertanyaanku, apakah pencuri, pencopet, dan sejenisnya sudah tidak ada lagi yang berkeliaran di sekitar kalian? Jawab pertanyaanku, apakah kalian tidak pernah mangkir dari kewajiban kalian beribadah sebagai hamba Tuhan? Jawab pertanyaanku, apakah pegawai-pegawai negeri tidak ada lagi yang membolos bekerja? Ayo, jawab!

Negara kita ini sungguh lucu. Keras berteriak saat muncul terduga korupsi di media, tetapi kelihatan konyol tak berdaya saat dihadapkan kekayaan dan tahta! Aku sangat yakin, bila kalian juga memiliki kesempatan yang sama seperti yang kupunya dulu, memiliki kedudukan di pemerintahan, kesempatan menyeleweng yang terbuka lebar, kalian akan berpesta korupsi sama denganku. Kita semua adalah koruptor!


Jangan kalian menangisi penderitaan kalian seperti itu. Baikkanlah tabiat kalian, maka pemimpin kalian nanti akan bertabiat baik. Kalian bisa bebas menghinaku tanpa perlu merasa menghina diri sendiri lagi. Biarkan aku sendiri di sini. Menebus segala apa yang telah kuperbuat dulu dengan menyandang gelar sampah masyarakat pada diriku.

0 komentar:

Poskan Komentar

Ada kesalahan di dalam gadget ini

Share

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites