Kamis, 14 Juli 2011

Si Manis Jembatan Ilmu

Banyak orang yang  tahu tentang “Si Manis Jembatan Ancol”. Ya, kisah seorang gadis yang hidupnya berakhir dengan tragis. Hampir sama dengan “Si Manis Jembatan Ilmu”. “Si Manis” ini tersiksa walau dirinya manis karena berguna bagi wawasan ilmu pengetahuan. “Si Manis” ini adalah buku.
“Si Manis Jembatan Ilmu”, tidak dipedulikan, terbengkalai, dan dianggap membosankan. Dia bermaksud baik untuk menghubungkan kita dengan ilmu, betapa manisnya dia. Sekarang tinggal kita yang mau atau tidak diberi kemanisan sikapnya.
Sering kita dengar bahwa taraf pendidikan di Indonesia rendah. Akibatnya, Indonesia tidak memiliki SDM (sumber daya manusia) yang berkualitas. Apa yang menyebabkan rendahnya taraf pendidikan Indonesia rendah? Salah satunya adalah kurangnya minat baca.
Kita tahu bahwa minat baca di Indonesia rendah. Kondisi ini disebabkan beberapa faktor, antara lain: tidak adanya kemauan dari masyarakat, tidak tersedianya kesempatan seperti tidakadanya perpustakaan, tingginya angka buta huruf, dan lain-lain. Kondisi ini diperburuk dengan mewabahnya acara-acara di televisi yang kurang mendidik. Orang-orang rela mengeluarkan uang berjuta-juta untuk membeli pesawat televisi ketimbang mengeluarkan uang tak lebih dari Rp 100.000,00 untuk membeli buku-buku yang bermanfaat.
Kondisi di Indonesia 360° berbeda dengan Jepang yang memiliki SDM berkualitas tinggi. Faktanya, orang-orang Jepang lebih suka membaca buku ketimbang menonton televisi. Di negeri sakura tersebut, acara-acara televisi banyak yang tidak laku karena rakyatnya yang tidak gemar menonton. Alhasil, mereka memiliki SDM yang berkualitas.
Membaca adalah cara aman untuk memperoleh ilmu ketimbang televisi. Menurut Budi Haryanto, Ph. D., M.Sc., MSPH., ahli kesehatan lingkungan dari Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia, terlalu lama menonton televisi dapat menimbulkan amblyopia atau mata malas, khususnya pada anak-anak. Ini disebabkan karena gangguan transmisi (pengiriman)gambar yang kita terima secara visual saat menuju otak. Hal ini juga mengakibatkan kita malas melakukan apapun. Bandingkan dengan membaca buku. Selain murah, tanpa dampak yang berbahaya, dan yang terpenting kita dapat memilih mana buku yang bermanfaat mana yang tidak.
Coba bayangkan apa yang terjadi jika anak-anak atau adik-adik kita mengalami amblyiopia karena terlalu lama menonton televisi, bayangkan apa yang terjadi jika kita meniru kebiasaan membaca dari orang-orang Jepang. Niscaya meningkat SDM negeri ini.
Pendidikan dapat diperoleh tidak hanya di lembaga-lembaga formal seperti sekolah. Seseorang bisa saja cerdas tanpa sekolah asal ia membaca buku yang bermanfaat. Belum lagi masih banyak orang yang tidak sadar akan pentingnya pendidikan, masih banyak orang yang tidak dapat mencicipi manisnya duduk di kelas sambil menerima pendidikan yang bermanfaat. Untuk itu, membaca adalah alternatifnya untuk mendapatkan pendidikan.
Untuk meninggkatkan minat baca pada masyarakat tentu harus melalui beberapa dorongan yang efektif, misalnya mengadakan perpustakaan umum di sejumlah sudut kota, lebih bagus lagi jika ada  ruang khusus anak-anak. Dengan demikian, anak-anak telah terbiasa membaca sejak kecil dan kebiasaan yang didapat sejak kecil akan dibawanya hingga dewasa nanti.
Dan juga usaha pemberantasan buta huruf, terutama di desa-desa terpencil yang sangat rentan akan buta huruf karena latar b elakang ekonomi dan sebagainnya.
Jangan biarkan “Si Manis Jembatan Ilmu” ini terbunuh selamanya begitu saja. Sungguh disayangkan, “Si Manis” ini terbengkalai tiada yang peduli, padahal ia berusaha memberikan manisnya pada dunia pendidikan Indonesia yang sakit-sakitan ini. Oleh karena itu, membaca buku memiliki peran penting dalam meningkatkan taraf pendidikan di Indonesia.

*artikel ini berhasil meraih penghargaan sebagai Juara 2 Artikel Terbaik dalam event "Semarak Hardiknas 2011" di Bandarlampung

1 komentar:

Nice Posting,
Salam bLogger Lampung...

Poskan Komentar

Ada kesalahan di dalam gadget ini

Share

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites