Tugu Kartini

jalan RA. Kartini, Bandarlampung.

tugu ADIPURA, Bandarlampung

tugu ADIPURA dengan gajah lampung sebagai icon kota Bandarlampung.

SDN 1 Waykandis

sekolah pertamaku.

pulau Condong, Lampung Selatan

tempat wisata favoritku

Kebun kelapa

Kebun kelapa di pesisir selatan Lampung Barat.

Tampilkan postingan dengan label Cerpen. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Cerpen. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 21 September 2013

Jangan Asal Jatuh Cinta (part 1)

Jangan kira perasaanmu hanya akan menuai bahagia. Jangan kira perasaan indah itu tidak akan mencoreng kontra yang dapat melukai orang lain. Saat kau sudah terbuai jauh, kau akan menyadari ada seseorang yang menangis di balik kebahagiaanmu. Rasa bersalah akan menghujanimu, mengutuk dirimu. Hingga kau menyadari kesalahanmu, kau telah asal jatuh cinta.
***

Sebut saja RY. Dia teman seangkatanku di SMA yang memiliki suatu hubungan yang sedikit spesial denganku. Tidak, kami tidak berpacaran. Bagiku berpacaran adalah kegiatan yang sia-sia dan menghabiskan materi dan waktu. Trauma di masa lalu juga yang membuatku berpikiran begitu. Kami tahu kalau kami saling suka, namun kami tidak menjalin ikatan apapun, hanya teman dengan sedikit percikan rasa suka. Aneh? Kami pun menyadari keanehan itu.
***
Semua bermula saat aku duduk di bangku kelas dua SMA, atau yang biasa disebut kelas XI…
Menurutku, RY adalah seorang siswa yang cerdas. Aku suka jika mendengar ia mengeluarkan argumen. Praktis, cerdas, dan kritis. Awalnya aku tidak punya ketertarikan apapun padanya. Berteman dekat pun tidak. Tapi karena teman-teman dekatku adalah teman dekatnya juga, aku dan dia pun jadi teman dekat.
Sudah sering aku mendengar desas-desus bahwa RY menaruh hati padaku, awalnya aku tidak percaya tapi cerita dari teman-temanku tentang respon RY jika berbicara tentangku membuat aku percaya bahwa ia memang menyukaiku. Pada awalnya aku masih merasa normal-normal saja, aku tidak merasakan debaran asmara seujung kuku pun padanya. Tapi lama-kelamaan aku mulai terombang-ambing oleh satu kata ajaib, ”cinta”.
KI, salah satu teman dekatku pernah bercerita pada kami, “semalem gue mimpi. Kita udah ada di sepuluh tahun ke depan. Gue udah jadi apoteker di Jawa. Terus gue ketemu RY, yang udah jadi dosen Bahasa Inggris, di Jakarta. Terus kami pulang bareng ke Lampung. Sampe di Lampung, kami solat dulu di masjid di pinggir jalan. Eh, ketemu si White habis ngajar ngaji di masjid itu. Terus si White ngajak kami mampir ke rumahnya. Kami ngobrol sampe sore. Dan di kesempatan itu lah si RY NGELAMAR si White!” KI bercerita dengan wajah sumringah. Aku terkejut dengan ceritanya. Kontan teman-teman yang ikut mendengarkan pun langsung meledekku, “ciiyyee… White mau dilamar RY…”  begitulah kata mereka.
Sejak mendengar cerita mimpi dari KI, tanpa kusadari bahwa akujadi semakin sering memikirkan RY. Dari seringnya aku memikirkan dia itu lah aku jadi semakin penasaran dengannya. Dari rasa penasaranku padanya itu lah tumbuh ketertarikan. Dan dari ketertarikan itu lah aku “terperangkap” olehnya.
Jika ditanya apa alasanku suka padanya, aku juga bingung memikiran apa jawabannya. Entah lah, apakah yang aku rasakan ini disebut cinta? Bukan rasa suka biasa yang sering kualami sejak lama yang hanya bertahan dua tahun paling lama?
***
“RY mulai deket sama anak kelas X tuh,” ujar temanku suatu saat, “memangnya siapa?” tanyaku penasaran, “itu loh, RI anak kelas X 8,” ujarnya lagi. “Lo cemburu? Bunuh aja si RI itu, White. Hahaha…  ” katanya meledekku. Aku rasakan pipiku memerah.

Hari terus berganti. Aku mulai merasa bahwa kedekatan RY dengan RI adalah fakta. Melalui facebook, hampir setiap hari aku melihat mereka begitu akrab. Aku merasakan rasa sesak yang menghujani dadaku. Inikah cemburu?
(to be continued...)

Sabtu, 24 Maret 2012

Ukhty oh Ukhty



Bayangkan kalau kamu yang tiba-tiba dicuek bebek dengan sahabatmu sendiri. Itulah yang terjadi padaku. Dia tiba-tiba berusaha menghindar, tapi kalau usaha menghindarnya tidak berhasil dia akan menganggap aku tidak ada. Sangat garing.
“Hey! Assalamu’alaikum, ukh.”tegurku pura-pura tidak menganggap paranoidku padanya. Dia tetap diam sambil berlalu meninggalkanku bersama salah satu teman sekelasnya. Ya, aku dan dia sebenarnya tidak sekelas, tapi yang membuat kami dekat adalah kesamaan ekstrakurikuler yang kami ikuti.
Aku tetap mempertahankan “positive thinking” padanya. Mungkin karena teman sekelasnya itu, ia pernah cerita padaku kalau banyak teman sekelasnya yang agak alergi dengan anak Rohis, anak alim, dan sejenisnya. Anak remaja zaman sekarang, bisikku dalam hati untuk menenangkan perasaanku.
Mungkin ia takut dijauhi teman-teman sekelasnya jika ia bergaul dengan orang sepertiku. Banyak orang yang ‘ill feel’ terhadapku lantaran jilbabku yang berukuran lebih besar dan panjang dari pada umumnya yang orang-orang kenakan.
Sahabatku itu bernama Amel. Dia seorang gadis yang agak tomboy, baik, dan, ya… bebeapa hal darinya tidak bisa kumengerti. Termasuk sebab ia menjauhiku ini. Jika dipikir-pikir, aku sebaiknya tidak terlalu berharap ia kembali akrab denganku, mungkin saja ia bukan kriteria seorang sahabat yang kuinginkan. Tapi bisakah ia mengerti perasaanku? Aku sulit melepas ia dan aku ingin tahu sebabnya, apa salahku dan apa yang telah kulakukan padanya.
Sejak kecil dimana pertama kali aku mendapat teman dari luar rumah, hal yang paling kubenci adalah permusuhan. Bagiku satu musuh sudah terlalu banyak. Walaupun terkadang aku bisa saja membenci orang, aku selalu berusaha memaafkan keburukan orang tersebut yang membuat kubenci padanya, sehingga tidak ada perang dingin atau permusuhan diantara aku dan orang itu. Tapi akankah Amel memaafkan kesalahanku? Apakah Amel merasa lebih baik jika bermusuhan? Akankah Amel memakai caraku untuk menghindari kebencian dan permusuhan?
***
Dia benar-benar keterlaluan. Aku berusaha bicara padanya seusai solat duha saat istirahat di musolah sekolah, tapi, entah ia terlalu pengecut, ia malah pergi. Saat itu, aku merekrut teman-temanku, yang mengerti masalah antara aku dan Amel, untuk membantuku menaham Amel di musolah. Mereka tahu karena mereka satu kelompok liqo’1 denganku, begitu juga Amel.
Setelah aku selesai solat duha dan begitu pun ia, aku duduk di sampingnya. Ia mengeluh risih dan berusaha pergi, tapi teman-teman yang lain menahannya untuk tetap duduk. Namun ia memberontak, “sudah lah… aku tidak mau kalau harus dipaksa seperti ini!”omelnya, emosiku memuncak, “Mel, aku hanya mau bicara sebentar,” jelasku tenang, ia tidak mendengarkan dan beranjak pergi. “Kamu itu kenapa, sih?” tanyaku disertai linangan air mata. Di musolah tidaklah sepi, belum lagi musolah berdekatan dengan kantin dan adegan itu kontan menjadi tontonan seluruh penghuni musolah, tapi aku tidak peduli.
Demi melihat kepergian Amel, tak terasa aku menangis. Aku duduk di sudut musolah sambil memeluk lututku dan menyembunyikan wajahku yang basah di atas lututku. Teman-teman menghampiriku, Widia, salah satu dari mereka, mengelus pundakku, “sabar ya, Marsha,”katanya dengan lembut.
Kejadian itu kuceritakan pada mbak Asti, tutor liqo’ku, setelah kegiatan liqo’ usai, “mungkin Amel hanya butuh waktu untuk sendiri,”jawab mbak Asti. Hanya aku dan mbak Asti di sana karena teman-teman yang lain sudah pulang. “Inginku hanya satu, mbak, apa sebabnya, itu saja,”keluhku, “mungkin Allah sedang menguji persahabatan kalian. Masalah dalam kehidupan itu ibarat garam pada masakan, tanpanya kehidupan tidak terasa sama sekali,”katanya lagi, “bersabar dan terus berdo’a pada Allah, jangan lupa ibadahnya,”saran mbak Asti.
***
Suatu hari…
“Marsha, aku pikir kamu emang gak adasalah deh, sama Amel,” sahut Indri, salah satu partner-ku dalam pembuatan buletin rohis. “Aku sedang malas membahas itu, Ndri,” jawabku, “ya… sepertinya kamu perlu tahu, deh. Waktu itu dia cerita sama aku, dan dari situ aku tahu Amel itu orangnya gak suka terlalu dekat dengan orang, aku rasa,” jelas Indri. Aku menatapnya remeh, “masalahnya, aku pernah berbuat seperti yang Amel lakukan. Aku pikir dia itu seperti aku, itu sifat alamiku sejak lahir, kurasa. Memang aneh kedengarannya, tapi semua orang pasti punya sifat anehnya masing-masing, kan?” lanjutnya. Aku mengangkat bahu, “dan haruskah itu mengorbankan perasaan orang lain?” tanyaku ketus.
Aku menegur diriku sendiri, memangnya aku bisa dengan mudah menghilangkan sifat burukku? Pertanyaan itu membuatku malu dan tersadar. Aku menemukan jawaban dari semua ini! Amel menjauhiku bukan karena aku salah, tapi tetap saja dalam perkara ini aku bersalah. Aku bersalah karena aku tidak bisa memahaminya dan sifatnya yaitu, tidak suka terlalu dekat dengan orang lain, dan aku bersalah karena aku hanya berusaha memenuhi hajatku tanpa berpikir pada sudut pandang yang lain.
***
maafkan aku yang tidak bisa memahamimu, Mel. Aku tahu sebenarnya kamu ingin menjelaskan semua itu padaku, kan? Mengenai sifatmu itu? Tapi kamu takut aku tidak bisa mengerti dan malah berbalik membencimu. Aku tahu itu, dan baru menyadarinya. Dan kamu benar, aku hampir membencimu.
Sekarang aku berusaha untuk memahamimu. Oke, kita tidak akan terlalu dekat karena aku tahu satu hal, sahabat itu tidak harus selalu bersama tetapi harus memahami maksud bersama. Maafkan aku, Mel. Selama ini aku tidak bisa memahamimu.
Itu lah isi pesanku pada Amel. Aku harap benar dugaanku atas dirinya, ia hanya ingin tidak terlalu dekat denganku.
***
Bagai tidak terjadi apa-apa pada kami berdua, aku dan Amel sudah bisa bersosialisasi seperti biasa. Walaupun tidak dekat seperti dulu, bagiku itu tidak masalah. Toh aku sudah bisa menjadi sahabat yang bisa memahaminya.

Kamis, 12 Januari 2012

Pahlawan Malam


 “Kenapa bisa lupa, sih?” omelku, “sorry, Sar. Gue bener-bener lupa. Gue juga capek bener kemaren gara-gara pertandingan Taekwondo,” ucap Tomi penuh sesal, “tapi nanti gimana kalau kita dihukum?”tanyaku kesal, bujang itu diam. Alasan pertandingan yang harus ia ikuti itu tak kuanggap sebagai alasan logis, walau mengingat ia memang berhasil menyabet medali emas.
Selalu begitu. Tomi adalah orang paling menyebalkan. Semua yang ia lakukan pasti aku yang kena getahnya. Dua hari yang lalu ia berhasil membuatku kesal karena ia menabrakku hingga flash disk milikku, yang ada di tanganku, melayang dan mendarat dengan kerasnya di lantai. Alhasil, semua data di dalamnya ikut raib.
Hari ini ia membuatku kesal karena ia lupa membawa makalah Biologi untuk tugas kelompokku, padahal hari ini kami harus mengumpulnya. Sungguh sial juga mengapa aku harus satu kelompok, berdua dengannya.
“Ya sudah, tapi kalian harus mengumpulkannya besok, dengan syarat nilai kalian dikurangi dua poin,”kata bu Nurul, guru Biologi kami yang terkenal sangat disiplin tapi tidak suka kekerasan. Dikurangi dua poin? Itu artinya kami harus mendapat poin sekurang-kurangnya 72, dan untuk medapatkannya aku harus menambahkan lagi materi-maeri yang ada di dalamnya! Ya ampun, padahal butuh waktu tiga hari begadang aku mengrjakannya. Aku tidak mau membagi pekerjaan ini pada Tomi, pasti iamembuat ulah kembali nantinya.
Sore hari setelah pulang sekolah, aku mulai mengerjakan makalahnya. Tidak terasa hingga malam menjalar dan akhirnya lengkap sudah makalah itu. Aku mulai mencetaknya dan, jeng! Kertas putih yang kumasukkan dalam printer hanya berhiaskan tulisan semu, tidak jelas. Sial! Rupanya tintanya habis. Waktu menunjukan pukul sebelas malam, toko alat tulis pasti sudah tutup.
Aku dongkol bukan main. Akhirnya aku pergi tidur tanpa memikirkan apa yang akan terjadi besok tanpa makalah itu.
***
“Tomi dan Sari, kemari!” panggil bu Nurul. Aku menghampiri meja guru dengan jantung berdegup kencang. Tuhan, tolong aku! “dimana Tomi?” tanyanya saat melihat hanya aku yang datang menghampirinya, “saya tidak tahu, bu. Mungkin ia terlambat atau mungkin tidak datang,” jelasku. Aku sudah tahu apa yang akan terjadi, kuputuskan untuk menjelaskannya, “bu, maafkan saya. Tadi malam saya sudah berusaha, tapi ternyata tinta printer saya habis dan tidak sempat lagi hendak membelinya,”jelasku dengan suara bergetar. Bu Nurul membaca ketakutanku, “hari ini adalah waktu akhirnya, ibu bukan bermaksud untuk menyusahkanmu tapi kamu tahu, senin yang akan datang itu sudah ujian semester dan nilai semua mata pelajaran harus terkumpul tiga hari sebelum waktu ujian, tepatnya hari ini,”jelas bu Nurul.
Tiba-tiba, “permisi, bu,” Tomi tiba-tiba datang, “maaf saya terlambat,” dia menghampiri aku dan bu Nurul, kemudian ia menyerahkan sejilid kertas, “dan ini makalahnya,”ujarnya santai. Aku takjub.
Bu Nurul tersenyum bangga dan mulai menelaah isi makalah tadi. “Thanks” bisikku, “gue ngerjain itu sampe bangun kesiangan, Sar!” bisik Tomi.
***
“Maaf ya Sari, malam ini papa lembur. Kerjaan gak bisa ditinggal, papa gak bisa jemput kamu di tempat bimbel,” tubuhku melemas mendengar suara papa di ponselku. Jam menunjukan pukul delapan malam. “Kamu menginap dulu aja di rumah tante Rani, kan gak jauh dari situ,” kata papa, walaupun dengan nada tidak yakin. “Tapi pa, papa tahu kan kelakuan sepupu-sepupuku yang nakal itu? Buku-bukuku bisa gak selamat dicoret-coret mereka, dan apa papa yakin rumah tante Rani muat kalo aku menginap di sana?” sanggahku, “oke, papa akan jemput kamu malam ini tapi gak sekarang, sambil nunggu papa kamu ke rumah tante Rani dulu,” kututup ponselku tanpa menyetujui saran papaku, tapi aku beranjak menuju rumah tanteku. Aku mulai membayangkan nasib buku-buku pelajaranku yang menumpuk di ranselku ini karena aku langsung pergi untuk bimbel tanpa pulang ke rumah terlebih dahulu.
Aku mulai mengandai-andai, jika saja aku belum kelas tiga SMA, pasti aku tidak perlu les sampai malam, kalau saja mama tidak bercerai dengan papa mungkin mama bisa menjemputku sekarang, seandainya rmah mama ada di dekat sini pasti aku tidak perlu pergi ke rumah tante.
Jalanan mulai lengang, dan di daerah ini memang didominasi gedung-gedung umum dan perkantoran, kulongok arlojiku, jam delapan malam, pantas saja. Tidak ada seorang pun di jalanan, hanya empat orang pemuda yang sedang berkumpul di pinggir jalan sambil mengisap rokok. Entah mengapa perasaanku tidak enak.
“Cewek,” sapa salah satu dari mereka saat aku melintasi mereka. Aku hanya pasang senyum dingin sambil berjalan. “Mau kemana? Gabung sama kita, yuk!” ajaknya, “enggak, terima kasih, saya masih punya banyak PR,” tolakku sekenanya, mereka mulai tampak memaksa dan perasaanku makin tidak enak. Mereka mulai memegangiku, aku mulai risih, “tidak,” jawabku tegas.
Aku benar-benar berharap ada seseorang yang menolong, Tuhan! Lirihku dalam hati. Namun beberapa orang yang masih melintasi jalanan tidak ada yang menepi untuk menolongku. Aku ingin meraih ponselku untuk mencari bantuan namun mereka memegangi kedua tanganku, “jangan! Tolong!” aku mulai berteriak, sia-sia saja karena tidak ada pemukiman warga dan jarang ada kendaraan melintas di sini.
Aku mendengar langkah kaki yang mendekat di sertai sosok hitam yang mendekat, jangan-jangan pemimpin mereka, batinku. “Apa kalian itu pria sejati kalau kalian memaksa seorang gadis tidak berdaya?” ujar sosok hitam itu. Ia mengenakan jaket kulit hitam, celana dasar hitam, dan helm berwarna hitam, tingginya sekitar 170 cm dan dari suaranya yang terdengar tadi sepertinya ia seorang pria yang masih muda. Tapi mengapa aku merasa mengenali suara itu?
“Eh, apa urusan lo?” ujar salah satu pemuda yang menahanku tadi, “gue ngerasa kalian gak pantes memperlakukan dia seperti itu,” ujar si hitam itu mantap, “alah! Sok dewasa omongan lo!” ejek salah satu pemuda, “daripada kalian sok anak kecil,” balas si hitam santai, “weh… tengil ini orang, ayo cuy! Kita kasih dia pelajaran berharga,” ajak pemuda itu pada yang lain. “Sari, menyingkir dari situ,” seru si Hitam yang tentu saja membuatku terkejut karena ia tahu namaku, mengapa ia bisa tahu?
Perkelahian terjadi! Salah seorang pemuda mencoba meninjunya namun berhasil ditepis olehnya. Menyusul satu tendangan namun berhasil ditahannya kemudian orang itu didorongnya hingga tersungkur ke tanah. Melihat perkelahian itu sepertinya sekelompok pemuda itu tidak memiliki keahlian berkelahi, hanya asal pukul, tendang, dan meninju. Lain dengan si Hitam yang sepertinya sangat terampil dalam menangkis, mengelak, bahkan memberi serangan. Aku merasa kenal dengan cara berkelahi itu.
Hanya sesekali si hitam berhasil ditinju oleh salah seorang pemuda. Si Hitam akhirnya mampu membuat sekelompok pemuda itu jatuh dan merintih kesakitan. Kesempatan itu tak disia-siakannya. Ia menarik tanganku dan berlari bersamaku.
Aku tidak mampu bertanya hendak kemana, tapi ia membawaku masuk ke gerbang sebuah kantor tepat di depan tempat aku ditahan tadi. Di pelataran parkir kantor itu hanya ada sebuah sepeda motor Honda Mega Pro. Ia merogoh sakunya dan mengeluarkan kunci. Kami berlari menuju sepeda motor itu. Ia menyalakan motor itu, “naik,” suruhnya, seketika kami melesat meninggalkan perkantoran itu. sekelompok pemuda itu mulai bangkit untuk berusaha mengentikan motor yang kunaiki bersama si Hitam, namun si Hitam memepercepat laju motor hingga mereka tak sempat melakukannya.
Aku sudah terbebas dari pemuda-pemuda kurang ajar itu, tapi bagaimana dengan si Hitam? Apakah ia akan melakukan hal yang lebih buruk padaku ketimbang mereka? Aku was-was. “Jangan takut, gue bakal nganterin lo pulang,” katanya seolah bisa membaca pikiranku, dan seolah bisa membaca pikiranku ia tidak bertanya ke arah mana rumahku, ia juga mengendarai sepeda motor ke jalan menuju rumahku. Sedetik kemudian aku baru ingat kalau kunci rumah tidak ada padaku, dan papa tiba di rumah baru larut malam nanti. “Maaf, di rumah gue enggak ada orang, bisa enggak anterin gue ke rumah tante gue?” kataku, “boleh, di daerah mana?” tanyanya, aku menyebutkan alamat rumah tanteku itu.
***
Aku benar-benar tidak tahu siapa si Hitam ini, tapi entah mengapa ia mengantarkanku sampai tujuan dengan selamat! Hal itu membuat aku yakin kalau dia orang yang baik, siapa pun pria kostum serba hitam ini. “Thanks ya, lo ‘pahlawan malam’ gue,” kataku saat aku telah turun dari sepeda motornya, “enggak masalah,” dari hembus napasnya aku tahu ia sedang tersenyum.
“Seingat gue, tadi lo kena tinju sama cowok-cowok tengil itu, gue yakin itu pasti jadi luka di wajah lo. Masuk yuk! Gue yakin tante gue punya alat-alat P3K,” tawarku, “gak seburuk kelihatannya, kok. Gue harus cepet pulang,” tolaknya sambil menyalakan mesin Honda Mega Pro-nya. “Tunggu!” cegahku sambil meraih lengan kuatnya, “gue cuma mau tahu, siapa lo sebenarnya? Kenapa lo tahu jalan arah ke rumah gue? Dan kenapa lo tahu nama gue?” tanyaku. Kaca helmnya yang gelap menutupi kedua matanya, namun aku tahu kalau ia sedang menatapku tajam. Lima detik ia menatapku, lalu ia menggeleng kemudian berlalu meninggalkanku. Aku mengingat-ingat nomor plat motor itu, siapa tahu kami bisa bertemu lagi, batinku.
Aku berjalan menuju pintu rumah, kuketuk pintu dan seorang wanita cantik berusia tiga puluhan menyambutku. Aku tidak percaya aku masih bisa selamat, padahal setengah jam yang lalu aku sangat ketakutan. Kupeluk wanita yang adalah tante Rani sambil terisak, “Sari? Ada apa?” tanyanya, aku hanya bisa menjawab dengan tangisku.
***

Lagi. Tomi membuat ulah. Dia menghilangkan flash disk milikku yang kupinjamkan padanya. Aku kesal bukan main. “Nanti gue ganti deh,” katanya memohon maaf, “bukan masalah flash disk-nya lo, Tomi, tapi data yang ada di dalamnya,” ujarku dengan rasa dongkol. Aku melihat raut wajah Tomi yang benar-benar menyesal, tapi karena rasa kesalku, kuabaikan rasa sesalnya.
Hari ini jadwalku untuk mengikuti bimbel. Detik demi detik hari itu hanya membuatku kesal. Trauma pulang malam hari, khawatir kejadian kemarin malam terulang lagi, flash disk hilang, dan rasa kesal pada Tomi bercampur di kepalaku.
 Akhirny jam belajar telah usai. Aku keluar gedung namun papa belum datang menjemput. Aku menelpon papaku, “papa bisa jemput kan?” tanyaku, “iya, papa lagi di jalan. Tunggu, ya. Papa janji kejadian kemarin gak akan terulang lagi,” jawab papa, kalau tidak akan terulang, bagaimana jika terjadi hal yang lebih buruk?
Jalanan mulai sepi, tapi yang kutunggu belum juga datang. “Itu ceweknya bos,” ujar seseorang. Aku menoleh ke asal suara itu, sekelompok pria datang mendekatiku. Mereka mengepungku. “Gue denger dari anak buah gue, lo coba macam-macam sama mereka, iya?” tanya pria bertubuh paling besar. Aku hanya diam ketakutan. “Bukan dia, bos. Tapi orang lain, cowok pake baju serba hitam, motornya Mega Pro,” ujar seorang anak buahnya, “dia gak ngapa-ngapain. Cuma nonton aja,” tambahnya, “tolong sih, bang. Saya cuma mau pulang,” kataku memohon, “iya iya, lo gak bakal kami apa-apain tapi lo harus kasih tahu siapa cowok yang habis nolongin lo kemarin,” katanya, “saya gak tahu, bang. Tiba-tiba dia datang dan nolongin saya, waktu dia mengantar saya pulang saya tanya dia itu siapa,tapi dia gak jawab,”jawabku, “bener?” tanya si pria besar, aku mengangguk sambil ketakutan.
Tiba-tiba saja Honda Mega Pro itu datang bersama pengendaranya yaitu si Pahawan Malamku. “Nah! Ini dia orangnya!” ujar seorang anak buahnya, “ngapain lagi kalian gangguin dia?” tanya si Pahlawan Malam, “jadi lo yang udah kurang ajar sama anak buah gue?” kata si Bos, “gue kurang ajar? Anak buah lo itu yang kurang ajar gangguin cewek, masih SMA lagi,” jawabnya dengan nada tidak mau kalah. “O… Nantangin ini anak. Ayo maju!” seru si Bos, “Bos aja deh! Kami udah kapok kena tonjokan dari dia,” jawab salah satu anak buahnya, “banci!!” hardik si Bos. Dia mulai berkelahi dengan si Pahlawan Malam.
Aku mundur untuk menjauhkan diri dari perhatian mereka. Diam-diam aku menekan 112 di ponselku. “Tolong panggilkan polisi. Saya di jalan Raya Kota nomor 17,” kataku di ponsel dengan suara bergetar. Selagi aku menelpon, mereka masih sibuk berkelahi, sementara para anak buah sibuk menonton tanpa memperhatikanku yang baru saja menelpon polisi.
Polisi belum juga datang, aku makin was-was walau sejauh ini belum ada tanda menyerah dari penolongku. Tanpa diduga, si Bos mengeluarkan sebilah belati dan menusukkan tanpa ampun ke perut si Pahlawan Malam, “JANGAN..!!!” teriakku, namun hal itu tidak mengentikan aksinya. Ia menusuknya lagi. Ketakutanku mencapai puncaknya, secara refleks aku mencoba menahan tangan si Bos. Aku mengabaikan kemungkinan bahwa si Bos bisa saja membunuhku juga. Aku didorongnya secara kasar, aku jatuh.
Baru pada saat itu aku mendengar sirine polisi. “Bos, ada polisi, Bos,” ujar anak buahnya, mereka ketakutan,“ayo cabut!” mereka pun lari. Aku mendekati tubuh tidak berdaya itu, aku berlutut disampingnya, “Sari…” bisiknya pelan dengan merintih, aku menggenggam tangannya erat sekali sambil menghujani tubuhnya dengan air mataku.
Lima mobil polisi mengejar kawanan penjahat itu dan satu mobil polisi mendekati kami. “Selamat malam, dik,” kata seorang polisi sambil memberi hormat padaku, aku hanya diam sambil menatapnya, “maaf kami datang terlambat” kata polisi itu padaku, aku masih tetap diam. Tiba-tiba mobil papa datang, “Sari!” panggil papa, “papa! Tolong, pa. Kita bawa dia ke rumah sakit sekarang,” kataku. Tanpa ada pertanyaan papa dan dua orang polisi membantu meletakkan si Pahlawan Malam ke dalam mobil papa. Aku menemaninya di kursi belakang. Aku menatap helm hitamnya, dia masih sadar namun sangat lemah, kubuka helm itu, dan isak tangisku meledak. Ternyata Pahlawan Malamku adalah… Tomi!
Matanya yang sayu menatapku yang sedang menangis, dia hanya tersenyum. Aku memeluknya erat sekali, dan kurasakan ia juga membalas pelukanku. Aku bisa merasakan detak jantungnya yang lemah dan napasnya yang demikian berat karena lukanya, luka tusukan di perutnya, juga luka di perasaannya karena perlakuanku padanya selama ini. Maafkan aku,Tomi…
***

Sabtu, 26 Maret 2011

Berlian Terbuang VS Sampah Teranggap


“Jum’at, 3 Juni 2010
My diary, hari ini aku sedih sekali. Mungkin benar kata orang-orang bahwa jangan bermimpi terlalu tinggi. Impianku untuk menjadi seorang jurnalis andal telah musnah. Bagaimana tidak? Tes SMAN Pilihan yang sebegitu mudahnya saja tak bisa kulalui dengan keberhasilan. Aku tahu setiap kehidupan kita pasti mengalami kegagalan. Tapi, harus sepedih inikah? Aku tidak tahu harus melanjutkan kemana. Aku bingung, sangat bingung.
Namun yang paling menyakitkan bagiku adalah, mengapa teman-temanku yang nilai ujian sekolahnya jauh di bawahku bisa lolos dari tes itu. Aku merasa bodoh, sangat bodoh.”
Begitulah Calista menulis di buku hariannya. Ia masih belum menerima kenyataan pahit yang dialaminya ini. Calista menghela nafas. Ia memandang handycamnya dengan lesu. Biasanya ia menggunakan handycam itu untuk membuat film dokumenter singkat, itulah hobinya sesuai dengan cita-citanya yang ingin menjadi jurnalis andal. Namun sekarang ia patah semangat karena kegagalan ini.
Ia menyimpan handycam itu dalam lemari, juga flashdisk dan sejumlah vcd yang bertuliskan “Pesta Pernikahan Adat Lampung”, “Impian Dibalik Guguran Daun”, dan berbagai judul film documenter karyanya yang sengaja ia tulis di sampul vcd-vcd itu. Rasanya ia tidak mau lagi melihat benda-benda itu lagi.
Ia meraih ponselnya dan mengirim pesan pada seorang temannya yang juga mendaftar sebagai calon siswa baru di SMAN Pilihan.
“Hai, Fitria. Bagaimana tes SMAN-mu?
Kamu terpilih sebagai salah satu siswi di SMAN Pilihan?”
Tak lama kemudian, si penerima pesan membalas.
“tidak, aku gagal. Kudengar kamu juga gagal, ya?
Untung aku diterima di Madrasah Aliyah Negeri Harapan,jadi aku tak perlu mendaftar di SMA swasta yang pasti bayarannya mahal.”
Akhirnya kedua gadis itu asyik bersenam jari pada ponsel masing-masing. Dalam diri Calista timbul rasa heran. Mengapa Fitria, teman tercerdas di kelasnya ini tidak terpilih tetapi teman yang berada jauh dibawahnya yang terpilih? Ada apa dibalik semua ini? Pertanyaan itu masih tidak terjawab dalam benak Calista.
***
Esok harinya Calista masih memikirkan masalahnya. Ia mengambil selembar brosur SMA Islam. Ia membaca rincian biaya, persyaratan pendaftaran, dan semua tentang SMA tersebut. Ia mengela nafas. “Mengapa dunia menjadi tidak adil? Mengapa aku tidak lulus? Padahal nilai ujian nasionalku memuaskan, aku telah belajar sungguh-sungguh demi tes penerimaan siswa baru saat itu. Mengapa harus sepahit ini?” pikir Calista. “Mengapa mereka yang nilai ujian nasionalnya tidak sebagus aku yang terpilih?”
Calista melamun di kursi ruang keluarga, saat ummi menghampirinya. “Calista, kamu lupa ya, janji ummi kemarin? Kita kan mau pergi ke pantai sekeluarga.”kata ummi dengan lembut. Calista mengela nafas. “Kan ummi janjinya kalau Calista diterima di SMAN Pilihan, baru ummi tepati janji ummi.” Jawab Calista dengan lemas tanpa melirik sedikit pun wajah ummi. “Calista, ummi tahu kamu masih sedih karena kamu tidak lulus dalam tes kemarin. Secara pribadi ummi juga kecewa, tapi ummi yakin pasti Allah punya alasan mengapa Calista tidak diberi izin dari-Nya untuk bersekolah di SMAN Pilihan.” kata ummi. “Calista lulus atau tidak, tidak akan menjadi penghalang bagi kita untuk liburan bersama keluarga, kan?” lanjut ummi. “Mungkin Calista gak usah ikut, mi. Calista di rumah saja.” Kata Calista sambil berjalan menuju kamarnya.
Ia merebahkan tubuhnya ke atas tempat tidur. Terngiang kembali wajah Bu Tina, guru yang selalu memompa semangatnya dalam menjalani ujian saat ia SMP. Terbayang bagaimana keras dan gigihnya dukungan dari beliau pada dirinya dan teman-temannya saat menjelang ujian nasional, terbayang pula bagaimana tulusnya beliau mengajar. Berkat Bu Tina, Calista menyukai matematika. Berkat Bu Tina, Calista bersemangat belajar. Calista merasa telah mengecewakan gurunya itu.
Terngiang juga wajah teman-temannya yang sering membuat Bu Tina kesal, yang sering membuat Bu Tina kecewa, hingga terkadang Calista sendiri kesal dan menyebut mereka “manusia tak tahu diuntung”. Namun pada akhirnya mereka berhasil lulus dalam seleksi penerimaan siswa baru di SMAN Pilihan. Terbayang begitu jelas mereka tertawa di atas kekalahan Calista, mereka mengacungkan ibu jari yang dibalik di depan batang hidungnya. Air mata Calista mengalir dan membawanya kembali ke alam nyata. Lalu ia menangis tersedu.
Ia masih terisak saat kepalanya kembali memikirkan Bu Tina. Ia masih ingat kata-kata motivasi dari Bu Tina. “Jika berlian tergeletak di atas tumpukan sampah, pasti tanpa pikir panjang seseorang akan mengambil berlian tersebut. Dan jika sampah ditaruh di kotak berlian, tanpa pikir panjang semua orang tak akan menghargai sampah itu seberapapun mahal harganya atau seberapapun indah tempat ia diletakkan. Artinya seburuk apapun sekolah kalian nanti, jika kalian pintar tetaplah pintar. Jangan pedulikan apakah SMAN, SMA Swasta, atau SMA Internasional sekolah kalian nanti.” Kata beliau. “Takapa kita menjadi berlian yang terbuang, toh kita masih bias berguna bagi diri sendiri. Daripada kita menjadi sampah teranggap, yang akan menjadi bibit-bibit kuman yang akan menjadi parasit bagi bangsa kita. Dan jangan pernah putus asa atas apa yang kalian cita-citakan.” Lanjutnya.
Ia merasa bersalah. Tiba-tiba saja Calista terlonjak karena pikirannya sendiri. Ia baru menyadari bahwa jika ia hanya menangis dan berputus asa justru ia mengecewakan Bu Tina. Ia menghapus air matanya dan berkata dalam hati, “aku akan menjadi seperti yang Bu Tina inginkan. Aku akan menjadi berlian walaupun berada di tempat sampah. Seperti kata Bu Tina.” Ia menjadi semangat lagi.
Calista menghampiri ummi yang sedang mempersiapkan bekal untuk pergi ke pantai nanti. “Ummi, Calista mau ikut.” Kata Calista bersemangat lagi. Ummi masih bertanya-tanya mengapa putrid kesayangannya itu menjadi bersemangat lagi. Ummi memandang kepergian Calista dengan heran, namun juga bersyukur karena putrinya tidak murung lagi.
Ia langsung menuju kamar mandi dan mempersiapkan segalanya untuk ke pantai nanti. Tak lupa ia mengeluarkan handycamnya dari lemari dan memasukannya ke dalam tas bersama laptopnya.”Aku ‘masih’ seorang jurnalis,” pikirnya.
***
Akhirnya mereka semua sampai di pantai Mutun. Ia langsung beraksi dengan handycamnya. Sambil mengambil gambar ia memuji keindahan pantai tersebut. Tarif masuk yang murah dan pemandangan yang memuaskan. Dan terkadang seunit banana boat melintas di air laut yang jernih, terkadang jet ski atau pun sejumlah perahu kecil.
Setelah ia selesai mengambil gambar, ia mulai mengotak-atik rekamannya. Ia memotong gambar yang tidak perlu, menambahkan teks, dan lain-lain. Setelah ia selesai dengan film dokumenternya yang baru, ia berniat untuk menulis cerita tentang kejadian yang sempat terjadi padanya. Kejadian itu ia ketik rapi dan ia beri judul: “Berlian Terbuang vs Sampah Teranggap”. Tak lupa ia juga mengisahkan tentang Bu Tina.
***

Share

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites