Tugu Kartini

jalan RA. Kartini, Bandarlampung.

tugu ADIPURA, Bandarlampung

tugu ADIPURA dengan gajah lampung sebagai icon kota Bandarlampung.

SDN 1 Waykandis

sekolah pertamaku.

pulau Condong, Lampung Selatan

tempat wisata favoritku

Kebun kelapa

Kebun kelapa di pesisir selatan Lampung Barat.

Senin, 26 Mei 2014

Maafkan Aku, Man...

Hhh… masa lalu… tidak seharusnya aku mengingatnya. Namun kejadian di masa kini memaksaku mengingatnya.
Saat itu aku masih duduk di kelas kelas 5 SD. Ada anak pindahan di kelasku, namanya Riman. Mungkin kalian akan menganggap ini berlebihan mengingat aku baru menginjak usia 10 tahun tapi baru pertama bertemu entah mengapa aku merasakan butir-butir debar aneh pada diriku. Aku seperti sangat bahagia memandanginya. Ya… sepertinya aku menyukainya.
Lambat laun, aku makin jatuh karena, ya… bisa disebut sebagai pesona darinya. Dia termasuk siswa yang cerdas, humoris, namun terkadang menyebalkan. Sangat normal dan biasa saja untuk ukuran anak laki-laki di usia awal belasan tahun. Tampan? Entah lah. Apakah anak laki-laki dengan wajah khas Sumatera Selatan, hidung mancung, potongan rambut seperti mangkuk tengkurap kecoklatan bisa dibilang tampan? Aku rasa kalian akan menyebut ia biasa saja. Sayangnya, aku tidak memiliki fotonya semasa SD dulu.
Riman adalah anak dari keluarga yang memiliki kelas ekonomi bawahan. Berdasarkan info yang kudapat dari guruku, sepulang sekolah ia bekerja sebagai pemulung. Apa yang kulihat dari anak seperti itu? Aku rasa, aku bisa membenarkan perkataan temanku bahwa aku memiliki selera yang buruk soal laki-laki. Tetapi selalu ada sesuatu yang lain di mataku, yang tidak bisa mereka lihat, mengenai laki-laki yang tersemat di ruang hatiku.
Entah hanya perasaanku saja atau apa, tetapi aku merasa Riman tampak suka sekali mencari-cari perhatianku. Jika aku duduk sendirian di kelas, ia menghampiriku dan mulai bertingkah konyol. Ada saja tingkahnya yang membuatku tertawa.
Aku menceritakan pada seorangsahabatku tentang perasaanku ini. Memang manusia tak pernah luput dari khilaf, berita bahwa aku menyukai Riman pun menyebar luas. Dari bocoran cerita itu, teman-temanku merayuku untuk tidak menyukai Riman dan mengalihkan perasaanku pada Arif, seorang temanku yang ternyata menyukaiku. ”Ngapain kamu suka sama Riman. Dia kan orangnya ngeselin. Jadian aja dengan Arif tuh, dia suka sama kamu,” begitu kata mereka. Dan jadilah aku mengikuti jalan jahiliyah. Aku berpacaran dengan Arif hingga kelas 6 akhir.
Saat kelas 6, Arif memberiku hadiah di hari ulang tahunku. Teman-teman ramai menyorakiku. Sahabatku melihat Riman memandangku dengan pandangan penuh sinis. Beruntung bukan aku yang melihatnya. Saat kelas 6 menjelang ujian akhir, Riman memberiku surat yang ia titipkan pada sahabatku. Sampai detik ini, surat itu belum sempat berada di tanganku. Kata sahabatku itu, surat itu mengatakan bahwa Riman menyukaiku.
Dan masa-masaku di bangku putih biru penuh dengan rasa bersalah. Aku hampir tak pernah sempat bertemu Arif lagi, dan Riman pun aku tidak tahu kemana rimbanya. Masa SMP-ku juga penuh dengan rasa tertarik dengan lawan jenis, tapi jauh di dalam hatiku, Riman masih ada dalam harapanku.
Aku belajar dari kesalahan. Sejak saat itu aku benar-benar menganggap bahwa pacaran adalah hal yang sia-sia. Walaupun aku mudah sekali jatuh cinta, tapi keinginan untuk menjalin hubungan spesial kukubur dalam-dalam. Ketika aku mendapat fatwa bahwa pacaran itu dilarang agama, aku sudah benar-benar siap menjauhi perkara itu.
Oh iya, aku memiliki facebook pertama kali saat tahun 2009. Sejak memiliki facebook, aku terus-terusan mencari teman-teman SD dulu di sana. Ada yang ketemu, ada pula yang tidak. Riman termasuk dalam kelompok teman-temanku yang tidak kutemui facebooknya. Kemudian pada tahun 2010 lalu, aku membuat grup khusus untuk semua teman-teman SD yang seangkatan denganku.
Saat SMA, aku sudah putus harapan. Hanya jika kebetulan saja aku mengingat-ingat soal Riman. Aku pikir, kalaupun kami dipertemukan kembali, aku bingung harus bilang apa. Apa minta maaf saja cukup? Dia sudah mengalami sakit hati luar biasa karena ulahku. Bagaimana kalau dia memintaku untuk jadian dengannya? Bukankah aku sudah berkomitmen untuk tidak berpacaran? Akhirnya aku sadar, perpisahan dengan Riman adalah hal terbaik yang harus terjadi. Aku berdo’a pada Tuhan, semoga ia mau memaafkanku.
Kelas 12 SMA, aku menemukan facebook teman SD-ku dulu yang juga sahabatnya Riman, aku terbiasa memanggilnya Udin. Kami saling mengobrol, dan di ujung obrolan, aku bertanya soal Riman. Sayangnya Udin gak tau secara detail, yang dia tau hanya Riman merantau ke Palembang kerja di sebuah perusahaan gas.
Lulus SMA, aku hampir benar-benar lupa soal Riman. Sampai kira-kira sebulan yang lalu, facebook-ku di-add orang dengan nama akun “RiymAn N**** L************”. Biasanya aku selalu menolak add dari orang yang tidak kukenal. Tetapi aku mengonfirmasi akun ini. Walau aku tidak yakin, tetapi aku seperti mengenal pemilik akun ini. Jangan-jangan…
Akun itu juga mengirimkan tulisan ke grup teman-teman SD-ku.


Aku mengomentari tulisan tersebut. (Aku yang memiliki nama depan dengan huruf “M”)
Entah aku harus senang atau biasa saja. Masa lalu itu, yang sudah susah payah aku buang, kini kembali datang ke dimensi tempatku berpijak.
Mungkin kalian akan berpikir bahwa kisahku akan berakhir Riman dan aku kembali bersatu. Aku menanggalkan komitmenku. Aku membayar apa yang sudah kurusak dalam diri Riman.

Aku tidak bisa melakukan itu. Komitmen yang kupegang benar-benar tidak bisa diganggu oleh apapun. Toh perasaanku pada Riman sudah hilang entah kemana dan tiada tersisa. Ada banyak hal yang harus kuraih selain hal ini.
Dan ada sebab lain yang membuatku enggan lagi mengekspresikan rasaku padanya.


Semua itu karena dia…
Dia sudah… J

Tuhan punya rencana lain yang lebih indah. Tadinya aku berharap Riman mau memaafkanku. Tetapi  baik ia mau memaafkanku maupun tidak, sudah ada bidadari cantik di sampingnya, yang bisa menyembuhkan luka dalam yang pernah kubuat.

“Maafkan aku, man… “

Sabtu, 21 September 2013

Jangan Asal Jatuh Cinta (part 1)

Jangan kira perasaanmu hanya akan menuai bahagia. Jangan kira perasaan indah itu tidak akan mencoreng kontra yang dapat melukai orang lain. Saat kau sudah terbuai jauh, kau akan menyadari ada seseorang yang menangis di balik kebahagiaanmu. Rasa bersalah akan menghujanimu, mengutuk dirimu. Hingga kau menyadari kesalahanmu, kau telah asal jatuh cinta.
***

Sebut saja RY. Dia teman seangkatanku di SMA yang memiliki suatu hubungan yang sedikit spesial denganku. Tidak, kami tidak berpacaran. Bagiku berpacaran adalah kegiatan yang sia-sia dan menghabiskan materi dan waktu. Trauma di masa lalu juga yang membuatku berpikiran begitu. Kami tahu kalau kami saling suka, namun kami tidak menjalin ikatan apapun, hanya teman dengan sedikit percikan rasa suka. Aneh? Kami pun menyadari keanehan itu.
***
Semua bermula saat aku duduk di bangku kelas dua SMA, atau yang biasa disebut kelas XI…
Menurutku, RY adalah seorang siswa yang cerdas. Aku suka jika mendengar ia mengeluarkan argumen. Praktis, cerdas, dan kritis. Awalnya aku tidak punya ketertarikan apapun padanya. Berteman dekat pun tidak. Tapi karena teman-teman dekatku adalah teman dekatnya juga, aku dan dia pun jadi teman dekat.
Sudah sering aku mendengar desas-desus bahwa RY menaruh hati padaku, awalnya aku tidak percaya tapi cerita dari teman-temanku tentang respon RY jika berbicara tentangku membuat aku percaya bahwa ia memang menyukaiku. Pada awalnya aku masih merasa normal-normal saja, aku tidak merasakan debaran asmara seujung kuku pun padanya. Tapi lama-kelamaan aku mulai terombang-ambing oleh satu kata ajaib, ”cinta”.
KI, salah satu teman dekatku pernah bercerita pada kami, “semalem gue mimpi. Kita udah ada di sepuluh tahun ke depan. Gue udah jadi apoteker di Jawa. Terus gue ketemu RY, yang udah jadi dosen Bahasa Inggris, di Jakarta. Terus kami pulang bareng ke Lampung. Sampe di Lampung, kami solat dulu di masjid di pinggir jalan. Eh, ketemu si White habis ngajar ngaji di masjid itu. Terus si White ngajak kami mampir ke rumahnya. Kami ngobrol sampe sore. Dan di kesempatan itu lah si RY NGELAMAR si White!” KI bercerita dengan wajah sumringah. Aku terkejut dengan ceritanya. Kontan teman-teman yang ikut mendengarkan pun langsung meledekku, “ciiyyee… White mau dilamar RY…”  begitulah kata mereka.
Sejak mendengar cerita mimpi dari KI, tanpa kusadari bahwa akujadi semakin sering memikirkan RY. Dari seringnya aku memikirkan dia itu lah aku jadi semakin penasaran dengannya. Dari rasa penasaranku padanya itu lah tumbuh ketertarikan. Dan dari ketertarikan itu lah aku “terperangkap” olehnya.
Jika ditanya apa alasanku suka padanya, aku juga bingung memikiran apa jawabannya. Entah lah, apakah yang aku rasakan ini disebut cinta? Bukan rasa suka biasa yang sering kualami sejak lama yang hanya bertahan dua tahun paling lama?
***
“RY mulai deket sama anak kelas X tuh,” ujar temanku suatu saat, “memangnya siapa?” tanyaku penasaran, “itu loh, RI anak kelas X 8,” ujarnya lagi. “Lo cemburu? Bunuh aja si RI itu, White. Hahaha…  ” katanya meledekku. Aku rasakan pipiku memerah.

Hari terus berganti. Aku mulai merasa bahwa kedekatan RY dengan RI adalah fakta. Melalui facebook, hampir setiap hari aku melihat mereka begitu akrab. Aku merasakan rasa sesak yang menghujani dadaku. Inikah cemburu?
(to be continued...)

Share

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites